Peringatan Idul Ghodir Fatimiyah

1 comment 582 views

Majlis Ta’lim Fathimiyah mempunyai program pengajian rutin setiap dua minggu sekali, dengan lokasi bergantian diberbagai mushola yang ada di kecamatan Bangsri. Kemarin, Ahad 21 November 2010 berlokasi di Mushola Al-Husaini Candi, Banjaran dan acara dimulai tepat jam 14.00 sampai 16.00.

Lebih dari 150 akhwat anggota Fathimiyah hadir siang itu, karena acara kali ini sekaligus merayakan Idul Ghodir. Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, puisi untuk Imam Ali as, dilanjutkan Ceramah inti yang disampaikan Ustadzah. Khodijah dan diakhiri ziarah kepada Imam Ali as.

Suasana sejuk mengiringi siang menjelang sore itu, ustadzah Khodijah mengawali ceramahnya dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan Imam Ali as. Diantaranya; Imam Ali as adalah satu-satunya orang yang lahir didalam Ka’bah, Imam Ali juga seorang pemberani sehingga rela menggantikan Rosulullah untuk tidur di tempat tidurnya saat Rosulullah diam-diam meninggalkan kota Mekkah untuk berhijrah. Imam Ali as juga pemegang bendera perang Dan selalu mendapat kemenangan ketika berada di bawah kepemimpinannya.

Dalam kesempatan itu ustadzah Khodijah menyebutkan beberapa hadits Rosulullah yang berkenaan dengan keutamaan Imam Ali as, diantaranya: “Aliun minni wa ana min ‘Ali” (Ali dariku Dan aku dari Ali). “Anta minni bimanzilati Haruna min Musa illa annahu la nabiya ba’di” (Kedudukanmu, wahai Ali disisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada nabi setelahku). “Ana madinatul ilmi wa Aliun babuha, faman arodal madinah falya’tiha min babiha” (Aku adalah kotanya ilmu Dan Ali adalah pintunya, barang siapa ingin masuk ke kota, maka harus mendatangi pintunya). Dan banyak lagi hadis lain yang meriwayatkan tentang keutamaan beliau.

Berkenaan dengan Ghodir Khum beliau mengatakan, ketika Rosulullah haji wada’, Rosulullah memanggil seluruh kaum muslimin Dan dikumpulkan di sebuah tempat yang bernama Godir Khum/telaga Khum. Yang mana jatuh tepat pada tanggal 18 Zulhijah. Disana Rosulullah menyampaikan bahwa pengganti beliau setelah tiada adalah Imam Ali as. Dalam hadist beliau menyatakan “Man kuntu maulhu fa hadza ‘Aliyun maulahu….” (barang siapa menjadikanku pemimpinnya maka inilah Ali juga pemimpinnya….).

Selanjutnya ustadzah Khodijah melanjutkan, kita yang mengaku pecinta Ahlul bayt harus tahu hari raya Ghodir Khum. Kita juga harus memegang teguh dua peninggalan Rosulullah yaitu Al-Qur’an Dan Ahlulbayt. Karena kita tak punya amal apapun yang bisa diandalkan di akhirat, sehingga bakti kita, cinta kita pada Ahlul Bayt haruslah yang utama dalam hidup kita. Imam Ali as Dan keluarga Rosulullah adalah orang-orang pilihan yang mampu hidup dalam kezuhudan, ketaqwaan, jadi ketika kita mengaku pecinta mereka kita juga harus bisa meniru seperti mereka dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam hal makanan, dan pakaian, mereka hanya makan makanan sederhana dan sering dalam kelaparan karena lebih mengutamakan orang lain. Mereka juga berpakaian apa adanya, bahkan sayidah Fathimah memberikan baju barunya untuk pengemis. Memang kita hidup dalam zaman yang sangat mengedepankan life style, tapi apakah gaya hidup yang ditawarkan di televisi itu sesuai dengan ajaran Ahlul Bayt? Lalu apakah kita masih layak menjadi pengikut dan pecinta Ahlul Bayt ketika kehidupan kita tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan?

Kita harus bertekad sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri sebagai pecinta Ahlul bayt dengan melakukan segala perintah Allah Dan menjauhi larangan Allah, karena ajal kita selalu mengikuti kita, kapan saja Allah bisa mengambnil nyawa kita. Apakah kita sudah mempunyai bekal untuk di akhirat? Imam Ali as mengatakan, bahwa di alam barzakh itu sangat menakutkan, kalau amal kita di dunia ini jelek maka kita akan dihimpit oleh kuburan kita dan kita pun akan susah dalam menjawab pertanyaan malaikat tentang siapa Tuhan kita, Nabi kita, sampai 500 tahun lamanya baru kita bisa menjawabnya. Dikarenakan akibat maksiat yang kita lakukan, maka ketika sakaratul maut akan mengalami rasa sakit yang sangat sehingga kita kehilangan hafalan-hafalan selama kita didunia.

Sebelum menutup ceramahnya, ustadzah Khodijah menyebutkan amalan hari Ghodir Khum. Diantaranya:
1. Berpuasa
2. Mandi kemudian sholat sunnah 2 rekaat sebelum dhuhur dengan bacaan Al-Fatehah, kemudian al-ikhlas, ayat kursi, dan al-qodr masing-masing sepuluh kali.
3. Membaca Doa Nudbah
4. Memberi sedekah
5. Memberi makan kepada yang berpuasa
6. Saling mengucapkan selamat kepada kaum muslimin yang ditemui, dengan mengucapkan“Allahummaj’alna minal mutamassikina biwilayati Amiril Mu’minin wal aimmati as”
7. Menggembirakan sesama mukmin dengan memberi.

(daruttaqrib/ummi`s/sa)

One Response
  1. author

    ummi9 years ago

    semangat terus berjuang… Ya Ali.. Maulaya.. bimbinglah selalu kami…

    Reply

Leave a reply "Peringatan Idul Ghodir Fatimiyah"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.