Amerika Pening, Indonesia yang Susah

Beberapa jam menjelang kedatangan Barack Obama, Jakarta seperti tenggelam dalam keriuhan penyambutan, seolah yang bakal mendarat adalah seorang raja diraja tinimbang seorang presiden dari sebuah negara kampiun demokrasi dan perdamaian dunia?.

Ada sekian fakta menarik. Untuk pengamanan 24 jam Obama di Jakarta, polisi mengerahkan 8.056 personel dari Polda Metro Jaya, 20 personel Penanggulangan Teror, 38 Pasukan Pengamanan Presiden, dan 409 personel ‘Pengamanan Dalam’.

Selesai? Belum. Masih ada “tenaga sampingan”. Dua detasemen Brimob, dua unit pasukan penjinak bom, dua unit polisi satwa, dan dua unit Polisi Udara. Lalu pasukan cadangan dua Satuan Setingkat Kompi Brimob dan dua Unit Wanteror.

Selesai? Belum. Seluruh kendaraan “pengamanan personel”, termasuk armada Panser Anoa tentara Jakarta, juga bakal dikerahkan.

Selesai? Belum. Sebab akibat penyambutan masif ini, ada harga mahal yang harus dibayar penduduk Jakarta; penutupan jalan (polisi bilang “hanya sementara”) di ruas-ruas protokol yang dilalui rombongan Obama. Dan untuk megapolitan seperti Jakarta ini hanya berarti satu, kemacetan yang menganak ular di hari kerja, waktu yang lebih lama di jalan, ongkos bensin yang lebih besar, dan “kiamat kecil” bagi penjual kaki lima yang harus menutup lapak selama polisi dan tentara menggelar “operasi pengamanan”.

Selesai? Belum. Mahasiswa di Universitas Indonesia harus diliburkan selama 1,5 hari terhitung Selasa siang. Di kampus yang kegiatan belajar semestinya diprioritaskan lebih dari apapun itu, Obama kabarnya akan berpidato di sebuah balairung yang akan dihadiri oleh “sejumlah undangan”.

Selesai? Belum. Pemerintah juga harus keluar uang – uang pajak warga negara – untuk “pembenahan” tiga tempat yang bakal dikunjungi Obama, Majid Istiqlal, Taman Makam Pahlawan Kalibata dan Istana Negara.

Berapa anggaran pajak rakyat dibelanjakan untuk semua keriuhan ini? Belum ada pejabat yang berbicara soal ini – dan mungkin tak bakalan ada. Tapi terakhir kali pemerintah menjamu Presiden George Bush di Istana Bogor, selama 10 jam pada 2006, kabar yang beredar uang pajak rakyat habis Rp 6 miliar.

Untuk penyambutan Obama besar kemungkinan pemerintah keluar uang lebih besar. Dan jika ini benar, sebuah ironi besar. Sebab jauh di Merapi sana, hampir 300.000 orang kini tinggal di kamp-kamp pengungsian dalam bayang-bayang kecemasan. Dan bantuan negara untuk mereka? Maaf saja. Tapi sejauh ini, untuk bencana yang telah menelan korban 130 jiwa itu, uang makan pengungsi ditetapkan Rp 3.500 per orang per hari.

Ah, sebagian pejabat di Jakarta nampaknya luput membaca perkembangan politik di Washington. Andai saja mereka mengamati pemberitaan media di sana, mereka tentu bakal sadar kalau penyambutan seheboh ini tak sepatutnya terjadi. Sebab kali ini Obama datang untuk dua tujuan besar sekaligus; dia ingin menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak di Amerika – dengan membantu perusahaan Amerika “membuka pasar yang lebih besar” di setiap negara yang masuk dalam lawatannya (termasuk Indonesia) – dengan harapan kartu politiknya bisa kembali terang benderang lepas kekalahan pahit partainya, partai Demokrat, dalam pemilu sela lalu.

Berikut ada penggalan pernyataan Obama di beberapa media utama Amerika saat sebelum dia meninggalkan Washington untuk lawatan sepuluh hari di Asia:

“Tujuan utama dari kunjungan ini adalah membawa sekelompok perusahaan Amerika dan membuka pasar agar kita bisa jualan di Asia, di sejumlah pasar yang pertumbuhannya paling cepat di dunia, dan kita dapat menciptakan lapangan kerja di sini di Amerika Serikat.”

“Harapan saya adalah kami bakal punya sejumlah pengumumam yang menunjukkan kaitan apa yang kami lakukan di luar negeri dengan apa yang terjadi di dalam negeri ini dalam kaitannya dengan pertumbuhan lapangan kerja dan ekonomi.”

“Dari perjalanan yang bakal saya lakukan, saya akan bicara soal penambahan pasar di India, agar pebisnis Amerika bisa menjual lebih banyak produk di luar negeri sehingga lapangan pekerjaan di sini lebih terbuka.”

“Fokus lawatan kali ini seluruhnya adalah bagaimana kita membuka pasar sehingga pebisnis Amerika bisa sejahtera, dan kita bisa menjual lebih banyak barang dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan di Amerika Serikat,” katanya.

“Ada sekelompok besar bos besar perusahaan yang akan ikut dengan kami sehingga saya bisa membantu mereka di pasar-pasar itu dan memungkinkan mereka menjual produk-produknya.”

Ada 200 orang pebisnis bonafid Amerika, termasuk bos besar General Electric, yang ikut dalam lawatan resmi Obama ke Asia. Dan di Jakarta besok, saat bertemu dengan kalangan pejabat di Indonesia, semua pebisnis itu tentu berharap Obama memenuhi janjinya membantu pembukaan akses pasar yang sebesar-besarnya di Indonesia.

Obama jelas datang untuk sebuah misi dagang besar. Sayangnya banyak pejabat negara ini yang lupa kalau tak sepatutnya uang rakyat digunakan untuk memuluskan mimpi pihak swasta, apalagi swasta asing. [daruttaqrib/Islam Times]

No Response

Leave a reply "Amerika Pening, Indonesia yang Susah"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.