PEREMPUAN TUA DI PASAR

No comment 857 views

Dalam sebuah tulisan, Cak Nun atau Emha Ainun Najib pernah bilang bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa pemalas, lihatlah pagi-pagi buta para pekerja keras sudah bangun dan mereka meramaikan pasar dengan beraneka ragam barang dagangan dari berbagai pelosok. Begitulah kurang lebih perkataan beliau.

Pasar adalah denyut nabi masyarakat, berlomba menawarkan barang dan bersilat lidah untuk pandai menawar. Barang dilepas penjual dengan hati lapang dan dibawa pembeli dengan hati senang. Disanalah kehidupan berjalan, kesibukan berlangsung terus menerus dari pagi buta hingga malam hari, bahkan nadi itu nyaris tanpa berhenti sama sekali. Kesibukan orang-orang pasar mengalahkan ributnya para pialang saham, jelimet dan semangatnya menandingi para bos yang hanya bisa tanda tangan dan uang mengalir ke rekening.

Pagi menjelang siang hari itu, seperti biasa saya berperan sebagai ayah dan suami yang baik, mengantarkan anak dan terutama istri ke pasar untuk berbelanja kebutuhan perut untuk dua hari kedepan. Entah kenapa hari itu begitu mendung tidak seperti biasanya panas menyengat, apa karena pemanasan global sehingga menyebabkan menipisnya lapisan ozon shingga cuaca tidak menentu! Begitulah para pakar cuaca berbicara. Para pemodal berulah kita yang kena getah. Petani tidak bisa memprediksi lagi masa tanam dan panen. Nelayan kebingungan melaut, alat nafigasi alami mereka sudah tidak bersahabat lagi seperti dulu. Kemana arah angin membawa petunjuk akan adanya gerombolan ikan, bagaimana bulan berbicara tentang masa pasang dan surut, semuanya sudah tidak jelas lagi. Akibat alaminya dari itu, susahnya sayuran dan mahalnya ikan, turunnya harga beli masyarakat karena barang langka pasti mahalnya, belum lagi tengkulak licik berulah.

Ketika kepasar itulah melihat perempuan tua (mbah Supinah) penjual nasi ketan dan getuk. Makanan tempo dulu yang selalu ngangeni. Nasi ketan yang dibungkus daun pisang dan dialasi daun jati itu enaknya dimakan ketika ditaburi parutan kelapa dan diatasnya dikasih ginco, yaitu gula merah yang dicairkan agak kental. Getuk berbahan dasar singkong, sebagaimana sudah ada nyanyiannya “getuk asale saka tela” cara penyajiannya pun hampir sama dengan nasi ketan. Dua makanan ini adalah makanan peninggalan kuno, jenis makanan tradisional yang sudah jarang ditemui. Ketika memakannya seakan kembali ke masa para pendekar berpetualang dalam cerita-cerita silat tempo dulu. dua makanan ini mungkin pada masa keemasannya melebihi Mcdonals dan Spaghetti di jaman sekarang, begitu mendunia dan melegenda. Tanpa perlu gencar iklan atau pun diungkus dengan kemasan menarik.

Yang jual makanan kuno ini mulai jarang dan mungkin mulai hilang. Di pasar induk sebesar kota Jepara itu saja yang jual hanya dua orang yang saya lihat setelah berkeliling, itupun yang jual semuanya sudah uzur. Merekalah orang-orang tua yang tidak mengenal pikun, karena otaknya tidak pernah berhenti menghitung untung yang tidak seberapa, bayangkan saja satu bungkus hanya seharga lima ratus perak mahalnya seribu, sama sekali tidak sebanding dengan capeknya menyiapkan bahan bakunya. Mereka mengumpulkan untungnya hanya untuk membeli kain kapan, bekalnya dimasa depan yang sebentar lagi menjelang. Merekti adalah para pekerja keras yang tidak mengenal sakit, sebab tubuh ringkihnya selalu digunakan untuk bekerja semenjak muda. Jika istirahat malah membuat tubuhnya tidak nyaman, berhenti dari kerja hanya membuat hari-hari mereka kosong tak berarti. Prinsip mereka hidup berarti bergerak, dan bekerja. Berdiam diri nanti saja jika mati.

Itulah perbedaan orang sekarang dengan tempo dulu. Dalam sebuah hadist, Rasulullah menyebutkan bahwa diakhir jaman banyak yang mati muda dan mati mendadak, ini mungkin karena tubuh manusia sekarang terlalu banyak disitirahatkan, kurang gerak, bekerja hanya dibalik meja. Sehingga tubuh kehilangan keseimbangan, dan akhirnya cepat tumbang.

Tubuh setua itu yang seharusnya istirahat, masih terus digenjot berkerja. Mereka terbiasa mandiri, tidak pernah menggantungkan hidupnya kepada anak-anaknya apalagi pemerintah, meskipun dalam undang-undang hal ini merupakan kewajiban pemerintah dan mereka berhak menuntut. Anak-anaknya tidak bisa memikirkan ibunya, karena sibuk dengan urusannya sendiri, apalagi orang tua menjelang matinya biasanya lebih bijaksana, entah karena sudah mencium bau kubur, sehingga tidak tega kalau harus menambah derita anaknya dengan deritanya.

Apa mungkin karena langkanya atau karena ketuaannya sehingga lambat dalam melayani, para pembeli biasanya ngantri walau pun tidak seantri rakyat menunggu pembagian BLT dan pembagian raskin, angpau, sedekah masal dan sejenisnya. Dan kebanyakan pembeli bukan dari anak muda remaja, tapi ibu-ibu maupun bapak-bapak separo baya, mungkin untuk bernostalgia sebelum makanan kesukaannya hilang ditelan jaman, seiring dengan hilangnya penjual yang mati dimakan usia.

Manusia ketika sudah tua semestinya beristirahat bekerja untuk menyiapkan akhirat, digantikan oleh yang lebih muda, yang lebih kuat. Tapi sayang, kebanyakan rakyat Indonesia banyak yang tidak indah di masa tuanya, banyak yang bukan golongan PNS (Pegawai Negri Sipil), yang ketika tua menikmati pensiun. Lebih banyak orang tua yang turun ke jalan menjadi pengemis dan terpaksa menjadi orang tua jalanan, sehingga mati tua di jalanan. Dimanakah peranan negara dalam maslah ini! (darut taqrib/sa)

No Response

Leave a reply "PEREMPUAN TUA DI PASAR"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.