Krakatau Steel, Dilego Lalu Diperdebatkan?

Kekecewaan sejumlah politisi dan anggota parlemen awal pekan ini memenuhi halaman banyak media massa. Nadanya sama: mengecam harga jual saham pemerintah di PT Krakatau Steel yang mereka anggap “kebangetan”, di bawah harga jual saham perusahaan swasta yang kelasnya bahkan lebih rendah.

Di balik penentangan yang sepertinya tajam itu, mereka sebenarnya berada di kubu yang sama dengan pemerintah yang berkeras semuanya “wajar” dan “sesuai prosedur”: setuju melepas salah satu aset penting pertahanan negara ke tangan pihak swasta lokal dan asing.

Kementrian Badan Usaha Milik Negara pekan lalu mengumumkan harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering Krakatau Steel di Bursa Efek Jakarta adalah Rp 850 per lembar. Dengan produksi tahunan 2,4 juta ton, sebagian kalangan menilai harga wajar penjualan saham Krakatau Steel Rp 1.500 per lembar.

Rencananya, pemerintah akan melego 3,15 miliar lembar saham Krakatau Steel atau sekitar 20% saham perusahaan. Jika semua mulus dan sesuai perhitungan, Krakatau Steel paling banter dapat uang segar Rp 3,6 triliun. Angka yang kecil bila mengingat kepemilikan mutlak negara di Krakatau Steel nantinya bakal menyusut jadi 80%.

Pejabat perusahaan bilang sebagian dari uang itu bakal mereka pakai untuk menggenjot produksi menjadi 3,5 juta ton per tahun dari saat ini 2,4 juta ton. Perusahaan juga berharap bisa memenuhi separuh dari total permintaan baja dalam negeri yang mencapai 6 juta ton per tahun.

Mereka juga berencana menggunakan sebagian dari dana segar itu untuk mendanai keikutsertaan dalam sebuah perusahaan pabrik baja patungan. Belum lama ini, Krakatau Steel mengumumkan kerjasama mereka dengan raksasa baja Korea Selatan, Pohang Iron & Steel untuk membangun sebuah pabrik baja baru di kawasan Cilegon, dekat lokasi pabrik utama Krakatau Steel. Pohang bakal keluar uang lebih banyak dalam pembangunan perusahaan patungan ini dan nantinya menguasai sekitar 70% saham perusahaan.

Penjualan saham negara di Krakatau Steel dan kerjasama perusahaan dengan entitas asing untuk pendirian sebuah pabrik baja baru sebenarnya isyarat buruk: kian kukuhnya cengkraman asing dalam pasar baja nasional serta industri pertahanan negara. Baja merupakan komponen inti banyak alat perang. Industri pertahanan dalam negeri memerlukannya dalam jumlah banyak dan murah, utamanya sejak mereka mencanangkan keinginan memproduksi sendiri seluruh alat-alat perang. Dan kehadiran asing dan swasta di Krakatau Steel bakal menjadikan harga beli baja oleh industri pertahanan dalam negeri kian mahal seiring hari. (darut taqrib/sa/Islam Times)

No Response

Leave a reply "Krakatau Steel, Dilego Lalu Diperdebatkan?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.