Liburan dan bencana, ironi sebuah bangsa

Suasana pantai yang lengang, dihiasi pasir putih yang mempesona dan diiringi deburan ombak yang begitu lembut membelai bibir pantai, menambah indahnya hari minggu pagi itu.

Kami sekeluarga sedang menikmati liburan yang kian mahal dan langka, memang kalau kita mengikuti kerjaan dan kesibukan yang tak kunjung henti, niscaya begitu susahnya menikmati cerahnya pagi seperti minggu pagi itu. Kita selalu disibukan oleh kerangka kerja yang padat dan rapat bagaikan jeruju besi penjara, membelenggu tubuh dan jiwa kita, sehingga tidak bisa bebas bergerak. Tubuh dan jiwa kita sudah lama terasing dan bukan milik kita sendiri. Kita bagaikan” robot bernyawa”  meminjam lagunya bang Iwan Fals, yang hanya mengenal kerja dan kerja.

Kalaulah mau, sesungguhnya untuk menikmati liburan sangatlah murah dan sederhana. Pagi itu hanya berbekal nasi pecel dua bungkus seharga Rp. 2.500 perbungkus, ditambah mendoan (tempe goreng dibungkus tepung) dan bakwan digoreng agak kering yang semuanya tidaklah sampai sepuluh ribu, sungguh nikmat ternyata! Karena kesederhanaan banyak menawarkan kebahagiaan dan kepuasaan dan tidak selalu hal-hal mewah dan mahal. Entah! Ini mungkin hanya sekedar menghibur diri karena ketidakmampuan secara financial (kere).

Boleh dikata, Liburan adalah kata yang asing dan langka bagi sebagian rakyat Indonesia saat ini. sebaliknya,  serasa kental, begitu akrab bahkan merupakan sebuah keharusan bagi elit bangsa sebab mereka “sibuk” mengurus negara, hari-harinya terlalu padat untuk rapat demi kepentingan negara, bukankah mereka itu “abdi” bangsa! Jadi mereka perlu istirahat, liburan!.

Baru-baru ini anggota dewan yang terhormat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Itali , sebagaimana diberitakan detik.com “Ya, sudah berangkat tadi malam. Tapi informasi lebih jauhnya silakan saja tanyakan pada ketua rombongan,” kata anggota Komisi V DPR Saleh Husin, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/10/2010). Dan pasti tidak akan di umumkan ke public, diam-diam saja! Kalau tidak pasti menuai protes rakyat yang sudah gerah dengan tingkah anggota dewan ini. Walaupun sempat tercium oleh aktifis bendera dan rencana mau melakukan aksi sweefing akan tetapi digagalkan oleh pihak kepolisian.

Sikap diam-diam ini sebenarnya bertentangan dengan intruksi pimpinan Dewan. Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, sempat menegaskan bahwa semua kunjungan ke luar negeri harus dilakukan transparan. Termasuk menerangkan maksud dan efektifitas setelah kunjungan demi kepentingan rakyat dan bangsa.

Lah! kalau berangkatnya saja sudah kucing-kucingan apalagi menyalahi intruksi pimpinan bisa dipastikan kesalahannya begitu banyak maka bagaimana mempertanggung jawabkan hasil kunjungannya!

Informasinya, kunjungan ini akan berlangsung selama lima hari. Mereka yang berangkat adalah Yasti Soepredjo Mokoagow dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) dan Muhidin Mohamad Said dari Fraksi Partai Golkar, masing-masing selaku ketua delegasi. Lalu ada empat orang dari Fraksi Partai Demokrat, tiga dari dari Fraksi Partai Golkar, dua dari FPDI-Perjuangan, dua orang dari FPPP, lalu masing-masing satu orang dari FPKS, FPKB dan F-Gerindra.

Bagaimana dengan rakyatnya?

Rakyat kecil mana mengenal kata liburan. Liburan berarti mereka tidak makan, anak-anaknya kelaparan. Liburan berarti membiarkan kupingnya panas dimarahi juragan.  Rakyat kita sudah lama menderita, sangat menderita. Pekerjaan susah didapat maka pekerjaan yang ada akan dipertahankan walau setiap masuk kerja makan hati melulu.  Rakyat hanya mencoba bertahan hidup, bertahan dari himpitan ekonomi yang demikian berat. Mencoba memperpanjang usia dan menumbuhkan harapan dari Tuhannya dan dari diri sendiri. Dari pemerintah harapan itu sangat tipis kalau tidak dibilang tidak ada, dari sesama apalagi,akan lebih susah karena mereka pun sibuk dengan kemiskinannya sendiri.

Ironis memang ditengah kemiskinan rakyatnya, malah anggota dewan jalan-jalan. Kalaulah biaya perjalanan satu orang dialokasikan buat beras rakyat, maka akan banyak rakyat yang bisa makan.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi bahwa keberangkatan kunjungan para anggota dewan itu berbarengan dengan bencana yang sedang melanda bangsa Indonesia, meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta, dan tsunami di Mentawai. Korban dari kedua bencana ini masih belum teridentifikasi jumlah pastinya, dikarenakan masih susahnya medan dan masih aktifnya letupan lahar panas atau wedus gembel di Merapi. Walaupun secara materil dan psikologis sangatlah besar dampak yang dirasakan warga sekitar yang menjadi korban.

Bencana sesungguhnya adalah ketidakpedulian anggota dewan dan mungkin kita sebagai sesama rakyat Indonesia atas semua musibah ini. Ketika nurani sudah tidak berfungsi, diam melihat penderitaan, terlalu asyik menikmati kehidupan sendiri, akan hancurlah sebuah bangsa dan musnah pula nilai sebuah peradaban. Tentu kita tidak ingin sejarah masa lalu, sejarah nabi-nabi terdahulu kambali terulang dan naudzubillah kalau kita sebagai pelakunya! (daruttaqrib/sa)

No Response

Leave a reply "Liburan dan bencana, ironi sebuah bangsa"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.