Terima Kasih Jakarta

6 comments 691 views

Tak beda dengan Indonesia, Singapura juga tengah berjuang keluar dari persoalan banjir. Rencana meninggikan ruas jalan Orchard Road hingga setengah meter adalah salah satu solusinya. Tapi belum lagi rencana itu terlaksana, persoalan lain datang menghadang, kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera menyebar dan menyelubunyi dan mengurung wilayah Singapura yang kecil, menyusahkan banyak penduduknya, utamanya orang-orang kaya di sana. Kabut yang sama juga menerjang sejumlah wilayah di barat Malaysia.

Media di tiga negara telah mendokumentasikannya dengan baik hampir sepekan penuh kemarin. Yang terparah sejak tahun 2006, kata The Straits Times. Kabut telah mencapai ambang yang membahayakan, kata media lainnya.

Kekecewaan Yaacob Ibrahim, Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura termasuk yang terdengar nyaring. “Ini urusan tak boleh dipandang remeh,” kata Yaacob di Bloomberg. “Kalau keadaan memburuk, kami mungkin akan menyuarakan keprihatikan kami kembali, mungkin dengan nada yang lebih keras untuk sejawat kami di Indonesia.” Tegasnya.

Urusan asap ini akhir pekan lalu telah reda dengan sendirinya. Hujan mengguyung hampir semua wilayah Sumatera, Singapura dan Malaysia dan hilanglah persoalan kabut asap ini. Orang Singapura kembali bisa bernafas lega dan bisnis di sana bisa kembali bersinar. Di bulan ini saja, bakal ada dua acara di sana; pekan helloween dan Singapore Sun Festival di akhir bulan.

Urusan kabut ini boleh jadi mereda sekarang. Namun banyak pejabat di Singapura dan Malaysia nampaknya akan melepaskan kekesalan yang sama ke pihak Indonesia jika kabut asap kembali menerjang.

Pejabat di dua negara itu nampaknya lupa kalau mereka punya saham dalam hilangnya ratusan jutaan hektar hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Bukankah yang selama ini membeli kayu dari dua wilayah itu dengan murah dan seringkali secara ilegal — lalu mengolahnya dan menjualnya ke Indonesia dengan harga lebih mahal — adalah perusahaan dari Singapura dan Malaysia? Bukankah dari lahan hutan yang gundul itu kini tumbuh juta hektar lahan perkebunan sawit milik taipan-taipan kaya Indonesia, Malaysia dan Singapura?

Menteri Yaacob dan sejumlah rekannya di Singapura boleh saja mencuci tangan dari persoalan ini. Tapi World Trade Organization telah merekam jejak mereka. Dalam sebuah laporan bertajuk “World Trade Report 2010: Trade in natural resources”, lembaga dunia itu mengeluarkan data yang intinya menyebutkan Singapura berada di posisi 15 besar negara pengekspor sumber daya alam. Ranking persisnya di posisi 14.

Prestasi besar sekaligus menakjubkan bila mengingat di peringkat 15 itu nama Indonesia — yang notabene wilayahnya jauh lebih luas dan kaya sumber daya alam — sama sekali tak tercantum. Dalam laporan itu, WTO menggolongkan ekspor kayu sebagai salah satu komponen sumber daya alam.

Sampai di sini saja sudah banyak pertanyaan. Salah satunya, sejak kapan Singapura punya hutan kayu yang lebat dan bisa ditebang dan diekspor dan mendatangkan kekayaan yang berlimpah?

Terima kasih Jakarta! Kalian telah memberi kaya negeri jiran dan rakyat kurang gizi, termiskinkan.

6 Responses
  1. author

    vonie113 years ago

    Artikel ini sangat menarik

    Reply
  2. author

    marselianadwi3 years ago

    makasih artikelnya

    Reply
  3. author

    Inas Nabilah4 years ago

    Artikel yang sangat menarik. Terima kasih informasi yang sudah diberikan.
    Saya juga mempunyai link berita terkini yang mungkin bermanfaat.
    Silahkan kunjungi Berita Terkini Universitas Gunadarma

    Reply

Leave a reply "Terima Kasih Jakarta"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.