Kota Qom Menjamu Sang Mentari Wilayah

Dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran, Rahbar atau Pemimpin Revolusi Islam berada di urutan teratas kepemimpinan negara. Kepemimpinan dalam sistem pemerintahan ini memiliki hubungan yang erat dengan rakyat. Keakraban itu nampak jelas dalam setiap kunjungan Rahbar ke berbagai penjuru negeri atau dalam pertemuan dengan berbagai lapisan masyarakat. Rahbar, Ayatollah al-Udzma Khamenei secara berkala melakukan kunjungan ke berbagai pelosok. Kali ini kota yang beliau kunjungi adalah Qom, kota suci yang menjadi pusat gerakan perjuangan Revolusi Islam. Rahbar dalam pidatonya menyebut kota ini sebagai tempat kelahiran revolusi dan dari kota inilah Imam Khomeini memulai perjuangannya. Selama berada di Qom, Pemimpin Besar Revolusi Islam melakukan pertemuan dengan para ulama, pelajar agama, masyarakat dan relawan basiji.Dalam setiap pertemuan, materi yang disampaikan oleh Rahbar sejalan dengan kondisi audiennya. Namun satu hal yang selalu beliau tekankan adalah posisi Qom sebagai kota yang penting karena keberadaan makam suci Hazrat Fatimah Masumah dan anak keturunan para Imam Ahlul Bait atau yang dikenal dalam bahasa Farsi dengan sebutan Imam Zadeh. Makam Hz Masumah adalah tempat ziarah yang selalu ramai dikunjungi para pencinta Ahlul Bait dari berbagai kota bahkan negara. Tak hanya itu, Qom juga merupakan pusat keilmuan agama dengan keberadaan hauzah ilmiah di sana. Dalam kaitan ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, “Hauzah ilmiah dan pusat kajian Islam terbesar di dunia ada di kota ini. Tidak ada satupun hauzah yang sebesar hauzah ilmiah Qom. Disinilah kutub ziarah dan spiritualitas. Di sini ada makam suci Hz Ma’sumah yang megah.”

Warga kota Qom dalam setiap momen Revolusi Islam yang urgen selalu tampil solid dengan memainkan peran penting. Dalam pidatonya di komplek makam suci Hazrat Masumah, Rahbar menjelaskan dua periode penting yang melibatkan warga Qom yaitu peristiwa tahun 1963 dan kedua peristiwa tahun 1978. Karena itulah beliau menyebut Qom sebagai tempat kelahiran Revolusi Islam dan kota yang paling reliji. Keistimewaan itulah yang melekat pada kota Qom dan membuatnya menjadi poros perjuangan Islam, apalagi dengan keberadaan para ulama di kota itu.

Pada pertemuan dengan ulama dan pelajar agama, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, “Para ulama Syiah selalu berada di tengah gelanggang transformasi sosial dan politik. Karena itu mereka punya pengaruh kuat yang tidak dimiliki oleh para tokoh agama manapun di dunia, baik dari kelompok Islam maupun non Islam.”

Hauzah ilmiah dan ulama memang selalu menjadi pembela pemerintahan Islam, sebab pemerintahan ini berkeinginan untuk menerapkan hukum Islam secara penuh di Iran. Rahbar menyatakan bahwa interaksi antara hauzah ilmiah dan pemerintahan Islam adalah ‘dukungan seiring dengan nasehat’ dan ‘pembelaan yang dibarengi dengan perbaikan’. Seperti yang beliau tegaskan, “Secara pemikiran dan keilmuan, pemerintahan Islam memerlukan para ulama dan hauzah ilmiah, dan merasa tenang dengan adanya dukungan dari mereka.” Beliau menambahkan, “Dengan esensi dan identitas keagamaannya, Republik Islam memerlukan pemaparan teori di berbagai bidang termasuk politik, ekonomi, manajemen, pendidikan dan berbagai bidang lainnya yang berkenaan dengan pengelolaan negara. Dan ini adalah tanggung jawab para ulama yakni mereka yang mengenal Islam dengan baik dan pakar dalam masalah keislaman.”

Di sisi lain, ulama yang berwawasan luas dan peduli akan kemajuan Islam, tak akan pernah menutup mata dari perkembangan di negara Islam ini. Mengenai masalah tersebut, Rahbar mengatakan, “Tidak ada seorang pun ulama yang tak punya kepedulian terhadap pemerintahan yang berdiri di atas landasan agama Islam dan bergerak dengan semangat keislaman.”

Dalam pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan independensi hauzah ilmiah sebagai pusat keilmuan agama. Meski demikian beliau menggarisbawahi, “Independensi ini jangan diartikan sebagai tidak adanya dukungan hauzah kepada pemerintahan atau bantuan pemerintah kepada hauzah. Sebab, memang ada sejumlah pihak yang menginginkan terputusnya hubungan baik antara hauzah dan pemerintahan Islam. Namun kerjasama dan dukungan bukan berarti kebergantungan.” Beliau menambahkan, “Pemerintahan Islam dan hauzah ilmiah yang ada di dalamnya adalah dua arus besar yang saling terikat dan tersambung di banyak sisi dan dimensinya. Dengan kata lain, keduanya mempunyai arah perjalanan yang sama.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam yang juga seorang ulama besar menekankan keharusan untuk melakukan perombakan yang positif dalam upaya meremajakan hauzah sesuai dengan tuntutan zaman. Sehingga diharapkan hauzah bisa menjawab pertanyaan dan isu-isu keagamaan yang merebak di tengah masyarakat khususnya generasi muda. Untuk itu, beliau menyinggung pentingnya pelajaran filsafat di hauzah ilmiah seraya mengimbau untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada ilmu-ilmu logika, filsafat, kalam dan juga tafsir al-Qur’an. Dalam imbauannya, beliau juga menekankan soal keharusan untuk melakukan penyucian jiwa atau tahdzibul nafs serta menjaga tata krama dan etika seperti penghormatan kepada guru yang sudah menjadi tradisi di hauzah.

Di antara masalah yang disinggung oleh Rahbar dalam pidatonya adalah perkembangan yang mencolok di hauzah perempuan. Beliau menyambut baik perkembangan itu seraya menyinggung sikap Barat yang merendahkan kaum perempuan. Beliau menyebut partisipasi ribuan perempuan di lingkungan hauzah sebagai fenomena yang agung dan membawa berkah seraya mengatakan, “Mencetak ulama, peneliti, faqih dan filosof dari kalangan hawa di hauzah ilmiah dan mempersiapkan mereka untuk terjun ke dunia sebagai kaum cendekia akan menjadi kebanggaan besar bagi revolusi dan Iran di dunia, sama halnya dengan kebanggaan yang dipersembahkan oleh para ilmuan kampus.”

Selain masalah hauzah dan keilmuan agama, dalam kunjungan ke kota Qom, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengangkat pula isu-isu dan perkembangan politik. Di depan warga Qom beliau menjelaskan dua agenda penting musuh dalam propagandanya dan mengatakan, “Agama’ dan ‘loyalitas rakyat’ adalah dua unsur yang menjadi sasaran serangan arogansi dunia terhadap Iran.”

Artinya, arogansi dunia menjadikan dua hal itu yang merupakan titik pilar kokoh revolusi sebagai sasaran serangan. Musuh berusaha melemahkan dua pilar tersebut. Rahbar menegaskan, “[Musuh] sadar, jika tidak mengandung esensi keagamaan, revolusi ini tak akan punya kekuatan resistensi yang hebat. Sebab agamalah yang melarang pengikutnya menyerah kepada kezaliman dan sebaliknya malah mendorong mereka untuk melawan kaum zalim. Agama pula yang menawarkan keadilan, kebebasan, spiritualitas dan kemajuan kepada kehidupan umat manusia. Inilah keistimewaan agama. Jadi, sistem yang dibangun di atas landasan agama mustahil menyerah kepada tekanan dan intimidasi musuh, kaum arogan dan kalangan ambisius.”

Tujuan kedua dari propaganda gencar musuh adalah melemahkan kepercayaan rakyat kepada pemerintahan yang Islami dan revolusioner ini. Sejak pertama kali berdiri, Republik Islam selalu didukung oleh rakyat. Mengenai hal ini Ayatollah al-Udzma Khamenei menandaskan, “Kerakyatan berarti revolusi ini didukung oleh rakyat yang setia. Pemerintahan Islam didukung secara penuh oleh rakyat. Selama ini begitulah yang terjadi. Jika tidak ada peran serta rakyat, jika antara rakyat dan sistem negara ada jurang pemisah, pasti negara ini tak akan mampu resisten di hadapan musuh.”

Beliau menjelaskan pula upaya musuh untuk melemahkan dukungan dan loyalitas rakyat kepada pemerintahan Islam seraya mengatakan, “Terkait upaya menggoyahkan loyalitas rakyat kepada sistem pemerintahan Islam, mereka sudah melakukan banyak hal. Mereka menyebar isu untuk membuat rakyat berburuk sangka terhadap para pejabat negara termasuk para pemimpin tiga lembaga negara. Mereka menebar buruk sangka.” Namun demikian, tambah beliau, upaya yang dilakukan musuh selama 32 tahun ini akan selalu membentur kegagalan. Rahbar juga mengingat program musuh lainnya yang terkait teori agama minus politik dan agama minus ulama. (DaTa/irib)

No Response

Leave a reply "Kota Qom Menjamu Sang Mentari Wilayah"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.