Bandul Liar Politik ala Elit Politik

Bak parodi topeng monyet, anak-anak bersorak bergerombol mengitari cerita lucu si monyet yang sedang berlagak. Sesekali tertawa dan sejurus kemudian menjauh karena takut. Euforia politik tanah air nampaknya mengandung pesan yang tak jauh berbeda dengan parodi si monyet itu.

Perpolitikan ditanah air menjadi sebuah tontonan lucu dan tidak menarik yang entah bagaimana tiba-tiba saja mengetuk pintu setiap dari kita, dan sinyal meniru sang monyet politik menjadi  gejala baru yang menggoda untuk diikuti gerak-geriknya. Berpose seolah si monyet yang bisa memainkan dolanan apa saja yang disajikan cuma-cuma dihadapannya.

Imbas pertunjukan topeng monyet ini tiba-tiba saja menyeruak tepat ke ubun-ubun setiap anak bangsa. Mungkin euforia telah menggoda begitu dalam dan menyulap sang diri untuk meniru model asal, asal bicara asal menguntungkan dan asal komentar dan asal bapak senang.

Semua adalah fatomorgana. Data? Tak lagi perlu untuk dibincangkan. Survai? Menjadi absurd untuk ditaati. Yang ada adalah segepok asumsi keliru yang masih mentah yang dijejalkan tepat ditengah-tengah masyarakat. Sebuah parodi lucu yang dipaksakan ke ruang publik tanpa data dan analisa lapangan yang bisa dipertanggungjawabkan. Semua tidak lebih sebagai asumsi dan sangkaan yang terlalu tergesa-gesa.

Seiring dengan format dan isu, karakter dan grafik pertumbuhan politik masyarakat dan persaingannya banyak mengambil cara, kode etik dan perangkat hukum yang khas. Jika kita memulai hitungan dari kehidupan sosial manusia yang paling primitif seperti masyarakat etnis, maka pertunjukkannya dilandasi dengan metode dan instrumen yang begitu kaku dan kasar.

Dalam masyarakat modern yang menempatkan persaingan sebagai norma. Sistem politik mereka tidak akan mampu survive tanpa kompetisi. Perangkat mereka bukan lagi pedang, kekerasan, kudeta, pembersihan rival politik, tetapi lebih mengandalkan akseptabilitas kehadirannya di kancah. Di sini, retorika, propaganda dan opini publik (Vox Populi) menjadi instrumen yang paling ampuh, yang diperumit dengan kecanggihan teknologi komunikasi dan imut-imut informasi. Mereka akan mengejar target-targetnya, sampai ke ruang-ruang publik yang paling privat dan sempit.

Ironisnya, lemah gemulai retorika, membentuk opini dan menciptakan kebutuhan yang menergantungkan rakyat kepada kehendak mereka. Mereka mengeksploitasi rakyat dan menyumbat tenggorokan rakyat. Di sini, tidak ada lagi kata dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, hukum dan norma adalah formalitas dibuat-buat.

Tapi, memang menjadi abdi bangsa, jujur, tulus, adil, optimis, tahan, tegar adalah kemulian. Nilai-nilai itu tidak terbatas, dan bisa digenggam semua orang. Maka seharusya, tidak ada peralihan, tidak ada kehilangan dan tidak ada pertunjukkan, tidak ada pula penjegalan. Hadapi resiko dengan berani, karena menjadi elit yang baik dengan tenang, senang dan rakyat dalam kelaparan adalah kurang ajar.

Apakah evaluasi satu tahun pemerintahan KIB II, akan mengakhiri pertunjukan parodi topeng monyet dan akan berakhir manis?, Entahlah, tiba-tiba menyelinap di benak, tangisan parau anak-anak bangsa di sudut-sudut jembatan dan terkepung genangan lumpur Lapindo. Jeritan pilu anak-anak yang dimiskinkan di sudut Indonesia paling Timur, Wasior, Papua Barat. [darut-taqrib/on]

Nb: Tulisan ini sekedar menyoroti moralitas elit-elit partai dan politikus di tanah air yang mengabaikan norma persaingan dalam politik

Gambar dari sini

No Response

Leave a reply "Bandul Liar Politik ala Elit Politik"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.