Pidato Rahbar di Komplek Haram Hz Ma’sumah, Saat Berkunjung ke Kota Suci Qom

Cetak
Saya mengucapkan selamat atas peringatan hari lahir imam kedelapan, Imam Ali Ar-Ridha (atasnya ribuan salam dan pujian) juga tibanya sepuluh hari Karamah yang mewarnai kelahiran Hz Fatimah Ma’sumah (as). Kepada Allah, saya panjatkan puji syukur atas taufik yang Dia berikan sehingga saya bisa berkumpul dan bertatap muka lagi dengan Anda sekalian warga Qom yang terhormat di kota yang penuh kenangan dan agung ini. Kota Qom adalah kota ilmu, jihad dan kearifan. Kearifan warga Qom adalah salah satu poin penting dan telah terbukti dalam perjalanan negeri ini dalam kurun waktu tiga puluh sekian tahun terakhir. Yang sangat menarik adalah bahwa kota ini dibangun karena semangat jihad yang dibarengi dengan kearifan. Saat itu keluarga besar Asyari datang ke daerah ini dan memutuskan untuk tinggal di sini. Dengan kata lain, mereka telah memilih daerah ini untuk digunakan sebagai pusat penyebaran ilmu dan ajaran Ahlul Bait (as). Dengan demikian, sebuah fase jihad kebudayaan telah dimulai di daerah ini. Sebelum datang ke Qom, keluarga Asyari terlibat dalam jihad bersenjata dan terjun ke medan perang. Tokoh besar Asyari ikut ambil bagian dalam pasukan jihad yang dipimpin Zaid bin Ali (as). Karena itulah, Hajjaj bin Yusuf sangat memusuhi keluarga ini sehingga mereka terpaksa berhijrah dan datang ke sini.

Di sinilah mereka membangun kawasan ilmu dengan kerja keras, kearifan dan ilmu yang mereka miliki. Hal itulah yang mendorong Hz Fatimah Ma’sumah (as) berhasrat untuk masuk ke kota Qom saat melintasi wilayah ini. Sebab, kota ini dikelola oleh para pembesar keluarga Asyari. Mereka menyambut dengan suka cita kedatangan Hz Masumah. Di sinilah beliau wafat dan sejak saat itu pula cahaya yang memancar dari makam suci Hz Masumah tak pernah padam. Warga Qom yang melahirkan gerakan budaya yang agung ini sejak saat itu telah menjadikan kota ini sebagai pusat gerakan keilmuan Ahlul Bait (as). Dari kota inilah ratusan ulama, muhaddits, mufassir dan para guru yang mengajarkan hukum Islam dan al-Qur’an menyebar ke wilayah timur dan barat dunia Islam. Dari Qom, ilmu menyebar ke pelosok negeri Khorasan, Irak dan Syam. Inilah bentuk kearifan warga Qom di zaman itu yang menjelaskan bahwa kota Qom dibangun dengan landasan jihad dan kearifan.

Hal yang sama juga terjadi di zaman kita. Artinya, Qom saat ini menjadi markas ilmu keislaman dan makrifat Ilahi yang paling menonjol. Berkat perjuangan, kearifan dan peran para ulama besar, sebuah sumber mata air memancar di kota ini yang manfaatnya dirasakan oleh seluruh penjuru dunia Islam.

Saya ingin mengingatkan dua peristiwa penting sejarah yang melibatkan warga Qom dengan peran mereka yang besar, berpengaruh dan terabadikan. Salah satunya adalah peristiwa Asyura tahun 1342 HS (Asyura 1383 H/ Juni 1963) dan peristiwa dua hari setelahnya yakni peristiwa 15 Khordad (5 Juni 1963). Pada hari Asyura warga Qom berkumpul di madrasah Feiziyyah setelah mendengar seruan Imam Khomeini (ra). Mereka sudah siap berkorban. Dua hari berikutnya, setelah mendengar berita penahanan Imam [oleh rezim Syah], warga berkumpul di halaman komplek Haram [Hz Ma’sumah]. Gerakan mereka yang agung ini telah membuat kebangkitan ulama yang dipimpin Imam Khomeini tidak terpasung dalam lingkup hauzah saja tetapi mengalir ke tengah masyarakat. Warga Qom-lah yang terdepan dalam gerakan ini, dan tentunya ini merupakan pekerjaan besar yang mereka lakukan.

Peristiwa kedua terjadi pada tahun 1356 HS (1978 M) saat warga Qom menyadari konspirasi besar yang dirancang musuh dalam bentuk penghinaan terhadap Imam Khomeini (ra). Warga Qom menyadari bahwa masalahnya bukan terbatas pada soal penghinaan terhadap Imam. Di kota Qom terjadi demonstrasi massa secara besar-besaran untuk pertama kalinya yang mengecam aksi pengkhianatan itu. Para pemuda Qom jatuh tersungkur bermandikan darah dan meregang nyawa di jalan-jalan kota termasuk di jalan Eram ini, juga di jalan Chahar Mardan. Mereka telah membuktikan kebenaran langkah dengan darah yang mereka persembahkan. Sepanjang tiga puluh tahun setelah kemenangan revolusi Islam, di setiap momen penting warga Qom selalu tampil penuh ketulusan, kejujuran, kesucian dan kearifan yang mengagumkan di tengah medan. Musuh tentunya punya program konspirasi untuk Qom. Jika tidak ada kesadaran dan kearifan dari warga Qom program-program konspirasi musuh bisa sangat membahayakan Qom. Berkat kesadaran warga dan keberadaan hauzah ilmiah di kota ini, Qom menjadi pusat kearifan.

Sejak zaman almarhum Ayatollah Hairi -pendiri hauzah ilmiah Qom- banyak marji yang hidup di kota ini, seperti Ayatollah Boroujerdi, juga marji-marji yang lain; almarhum Ayatollah Golpeygani, almarhum Ayatollah Araki, almarhum Ayatollah Mar’ashi, almarhum Ayatollah Bahjat. Hari inipun -alhamdulillah- ada sejumlah marji’ agung dan para ulama terhormat yang tinggal di kota ini. Hauzah ilmiah adalah sumber keberkahan. Kota yang penuh dengan kejujuran, kearifan dan jihad fi sabilillah ini sangat menghargai hauzah ilmiah dan para ulama. Kota ini siap terlibat secara aktif saat diperlukan. Kota inilah yang menjadi markas dan harapan revolusi ketika dari sini tokoh agung zaman kita yaitu Imam Khomeini bangkit dengan perjuangannya.

Kesempatan untuk berbicara dalam pertemuan yang agung ini sangat terbatas. Sambutan hangat dari warga telah mebuat kami berada cukup lama di perjalanan, dan kita tidak punya banyak waktu lagi. Namun saya ingin menyampaikan beberapa hal secara singkat.

Pertama, Qom adalah tempat kelahiran revolusi. Qom adalah kota yang paling relijius serta pusat dan tempat kemunculan revolusi yang paling besar di zaman ini. Lantas apa artinya hal itu? Artinya, dunia harus tahu bahwa revolusi ini adalah sebuah revolusi yang agamis dan relijius. Tidak ada penafsiran semaunya atau penafsiran materialis yang bisa dilekatkan kepada revolusi ini. Pusat kemunculannya adalah Qom. Pemimpinnya adalah seorang faqih, filosof, ulama besar dan tokoh spiritual. Identitas revolusi yang demikian inilah yang dikenal oleh dunia. Ini satu poin penting.

Poin berikutnya adalah apa yang dijadikan sasaran oleh musuh-musuh revolusi selama ini ketika ingin melayangkan pukulannya terhadap revolusi Islam dan pemerintahan ini? Ada dua hal yang menjadi target sasaran mereka, pertama agama dan kedua, rakyat dan loyalitasnya. Mereka sadar, jika bukan revolusi agama revolusi ini tak akan punya kekuatan resistensi yang hebat. Sebab agamalah yang melarang pengikutnya menyerah kepada kezaliman dan sebaliknya malah mendorong mereka untuk melawan kaum zalim. Agama pula yang menawarkan keadilan, kebebasan, spiritualitas dan kemajuan kepada kehidupan umat manusia. Inilah keistimewaan agama. Jadi, sistem yang dibangun di atas landasan agama mustahil menyerah kepada tekanan dan intimidasi musuh, kaum arogan dan kalangan ambisius. Jika revolusi ini tidak mengandung unsur agama mungkin para tokohnya akan menyerah kepada musuh setelah meraih sejumlah konsesi. Namun ketika agama yang menjadi tulang punggung revolusi ini, hal itu tidak pernah dan tidak akan terjadi.

Pelajaran besar yang diberikan oleh Imam Khomeini kepada kita dan bangsa ini adalah agar kita percaya kepada kekuatan diri sendiri serta berusaha meningkatkan daya dan kemampuan kita dari hari ke hari seiring dengan keimanan kepada Allah dan keyakinan akan pertolonganNya. Jika kalian gigih dan bertindak dengan benar dan bijak pertolongan Ilahi pasti akan menyertai kalian. Inilah keistimewaan keberagamaan rakyat, revolusi dan pemerintahan Islam ini.

Kerakyatan berarti revolusi ini didukung oleh rakyat yang setia. Pemerintahan Islam didukung secara penuh oleh rakyat. Selama ini begitulah yang terjadi. Jika tidak ada peran serta rakyat, jika antara rakyat dan sistem negara ada jurang pemisah, pasti negara ini tak akan mampu resisten di hadapan musuh. Partisipasi kokoh dari rakyatlah yang memberikan kekuatan kepada para pejabat negara untuk resisten. Inilah dua poin utama, yaitu agama dan rakyat. Karena itu musuh menjadikan dua hal itu sebagai target serangannya. Agama dibidik dengan satu cara sementara rakyat dan loyalitasnya dibidik dengan cara yang lain. Karena itu bukan satu kebetulan ketika sejak dekade 1360-an (sekitar dekade 1980-an Masehi) yakni sejak masa hidup Imam Khomeini yang penuh berkah, baik musuh eksternal maupun kaki tangannya yang tanpa pamrih di dalam negeri rajin merongrong dan menebar keraguan terhadap kesucian agama, hakikat agama dan ajaran Islam. Yang menjadi sasaran mereka adalah poin yang tadi sudah disinggung. Masalah ini mengemuka mulai dari kasus Salman Rushdie, pembuatan film-film anti Islam di Hollywood, karikatur pelecehan dan pembakaran al-Qur’an sampai terjadinya berbagai peristiwa yang memojokkan Islam di berbagai tempat. Itu terjadi karena musuh memang berusaha memudarkan keimanan masyarakat kepada Islam dan situs-situs kesucian Islam. Di dalam negeri mereka melakukan berbagai cara untuk menggoyahkan sendi-sendi keimanan rakyat khususnya generasi muda. Mereka menyebarkan amoralitas, ajaran-ajaran irfan yang palsu dan sesat -bukan irfan yang benar-, ajaran Bahaisme dan menyuburkan aktivitas gereja rumahan. Semua itu dilakukan secara terprogram dengan bekal penelitian dan perencanaan musuh-musuh Islam. Tujuannya adalah untuk melemahkan agama di tengah masyarakat.

Terkait upaya menggoyahkan loyalitas rakyat kepada sistem pemerintahan Islam, mereka sudah melakukan banyak hal. Mereka menyebar isu untuk membuat rakyat berburuk sangka terhadap para pejabat negara termasuk para pemimpin tiga lembaga negara. Mereka menebar buruk sangka. Setiap prestasi membanggakan dalam skala nasional yang membawa nilai sakral sengaja mereka ragukan kebenarannya lewat beragam sarana media. Jika ada kekurangan dan kelemahan, mereka akan mengeksposnya secara besar-besaran. Mereka sengaja menutup mata dari sisi positif yang ada. Semua itu dilakukan supaya rakyat khususnya generasi muda tenggelam dalam kekecewaan. Musuh sengaja memberikan gambaran masa depan yang buruk kepada kaum muda untuk membuat rakyat meninggalkan medan ini.

Namun satu hal yang paling penting adalah bahwa musuh-musuh bangsa Iran dan musuh pemeritahan Islam tidak mendapatkan hasil apapun dari dana raksasa yang telah mereka hamburkan selama 32 tahun ini dalam upaya mereka membidik dua sasaran tadi. Musuh kita gagal total. Mereka berkhayal bisa memisahkan rakyat dari pemerintahan Islam. Hari demi hari Anda saksikan sendiri, rakyat justeru semakin loyal kepada agama dan nilai-nilai spiritual. Sekarang di negara kita para pemuda berjubel memenuhi acara-acara ritual seperti acara ibadah di bulan Ramadhan dan di hari Idul Fitri. Perkumpulan-perkumpulan akbar seperti ini, juga pencerahan di tengah rakyat terhadap masalah politik tidak pernah ada sebelumnya. Setelah tindakan penistaan terhadap Imam Husain (as) yang dilakukan sekelompok orang yang tertipu dan terprovokasi pada hari Asyura tahun 88 (2009 Masehi) hanya selang dua hari setelah itu rakyat turun ke jalan-jalan pada tanggal 9 Dey (30 Desember 2009) sambil menyatakan reaksi tegas mereka. Semua cara dan media musuh tidak mampu melumpuhkan semangat keagamaan rakyat yang semakin hari justeru semakin kokoh, dan makrifat rakyat semakin mendalam.

Tak syak, musuh gagal total dalam upayanya memisahkan rakyat dari pemerintahan Islam. Tahun lalu, 40 juta warga memberikan suara dalam pemilu. Sebenarnya peristiwa itu adalah referendum dengan hasil dukungan 40 juta warga kepada pemerintahan Islam dan pemilihan umum. Itulah yang membuat musuh geram. Mereka lantas berpikir menyulut fitnah untuk menghilangkan amarah tadi. Di sini pun mereka gagal. Rakyat gigih menghadapi fitnah itu. Fitnah tahun lalu ibarat vaksinasi yang memperkuat daya tahan rakyat dalam menghadapi berbagai kuman dan bakteri politik dan sosial yang berpotensi merusak. Fitnah itu telah menambah kearifan rakyat.

Beberapa tahun lalu, di berbagai media lokal beberapa orang yang mengaku punya pemahaman dan ilmu mengumbar tulisan yang menghujat agama dan sendi-sendi pemerintahan Islam. Tapi apa yang mereka lakukan tidak meninggalkan kesan apapun di tengah rakyat. Saya berharap Anda memperhatikan hal ini, bahwa terkait masalah agama, musuh mengejar dua target utama. Sebab, mereka menyadari pengaruh besar kedua hal ini dalam kehidupan masyarakat. Pertama adalah masalah ‘Islam minus ulama’. Musuh menyadari bahwa ulama punya pengaruh besar di tengah masyarakat Iran. Memang masalah ini sudah sempat mereka angkat sebelum masa kemenangan revolusi Islam. Peran serta ulama di tengah kancah perjuangan revolusi untuk sementara membuat mereka melupakan teori tadi. Namun kini, mereka sudah memulainya kembali.

Masalah kedua adalah teori ‘Islam minum politik’ yang berarti pemisahan agama dari politik. Pemikiran inilah yang sekarang sedang getol mereka sebarkan di media cetak, tulisan, dan media internet. Masalah ini penting bagi mereka. Kita perlu memerhatikan prinsip ini, bahwa apa saja yang disorot oleh musuh dalam perencanaan dan garis besar programnya bisa menjadi materi yang harus mendapat perhatian kita dalam perencanaan dan program kita. Apa saja yang diserang habis-habisan oleh musuh harus kita pandang sebagai hal penting yang harus dijaga dan ditekankan, seperti partisipasi rakyat serta ajaran agama dan Islam.

Sejak tahun 1358 atau 1359 (1979 atau 1980) mereka sudah memboikot negara kita. Penerapan sanksi lebih lebih berat saat ini sebenarnya dimaksudkan untuk menekan rakyat dengan harapan bisa memisahkan rakyat dari pemerintahan Islam. Alhamdulillah, seperti yang dikatakan para pejabat negara dan dinyatakan oleh rakyat -dan secara praktiknya memang demikian- semua bentuk sanksi itu, berkat bantuan Allah, tidak menimbulkan dampak berlebihan dalam kehidupan rakyat. Bangsa yang tabah menghadapi kesulitan dekade 60-an (1980an masehi) di awal-awal revolusi, saat ini tentu akan lebih tegar setelah menyaksikan banyak prestasi gemilang yang berhasil diraih. Optimisme mereka semakin kuat dan masa depan semakin nampak cerah. Bangsa ini tentu akan lebih tegar berdiri di hadapan musuh dan siap melumpuhkan konspirasinya.

Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan secara singkat terkait perilaku kita dengan memperhatikan agenda konspirasi musuh.

Pertama adalah masalah persatuan nasional. Pembicaraan ini saya tujukan kepada kalangan elit dan rakyat umum. Masalah persatuan harus mendapat prioritas. Saya sudah sering berbicara tentang persatuan. Ada sejumlah parameter tentang persatuan yang sudah saya jelaskan. Masalah ini tidak akan terwujud hanya dengan kata-kata orang yang mengaku mendukung persatuan. Ada sejumlah parameter yang harus diperhatikan.

Masalah berikutnya adalah solidaritas dan kekompakan rakyat dan kalangan elit dengan tiga lembaga negara yang harus semakin diperkokoh. Lembaga-lembaga negara itu perlu didukung, khususnya lembaga eksekutif yang memikul beban berat. Menebar rumor dan menutup mata dari pengabdian yang sudah dilaksanakan tentu tidak menguntungkan negara dan masa depan negara.

Poin ketiga adalah masalah penguatan keimanan agama, memenuhi kebutuhan pemikiran dan menjawab berbagai pertanyaan para pemuda. Masalah ini lebih ditujukan kepada ulama dan kalangan hauzah. Setiap hari isu-isu selalu bermunculan dan jawabannya juga harus selalu ada.

Poin keempat adalah masalah pengenalan peran ulama dengan benar dan layak. Tugas ini bukan hanya dipikul oleh para ulama. Kalangan cendekiawan dan intelektual juga bisa menjelaskan peran ulama di negara ini termasuk peran para marji dan tokoh-tokoh hauzah di saat-saat yang genting. Perlu dijelaskan bagaimana ulama menyelamatkan masyarakat dari kebuntuan dan kesulitan.

Masalah berikutnya adalah tugas para pemuda untuk meningkatkan kearifan. Mereka harus berusaha sendiri. Mereka harus dapat mengenal musuh dan modus-modus permusuhannya. Tugas ini ada di pundak para pemuda.

Poin berikutnya yang perlu mendapat porsi perhatian yang besar adalah masalah kemajuan ilmu dan gerak langkah di dalam jalur peta keilmuan negara. Langkah ini -alhamdulillah sudah semakin membaik dalam lima atau enam tahun terakhir. Banyak prestasi berhasil dicapai. Kerja keras perlu ditingkatkan. Insya Allah gerak langkah ini semakin cepat. Namun ada gerak cepat yang mesti terjadi pula di lingkungan hauzah ilmiah. Tentang masalah ini, insya Allah saya akan membicarakannya dengan rekan-rekan di hauzah ilmiah.

Tugas penting lainnya -yang berhubungan dengan pemerintah- adalah menghilangkan unsur-unsur yang memicu kekecewaan dan kesulitan masyarakat; seperti masalah kesejahteraan hidup, lapangan kerja, pembenahan sistem adminstrasi, pemilihan pejabat di berbagai instansi -khususnya di teras atas-, juga masalah pemerintah kota dan kepolisian yang secara langsung bersentuhan dengan rakyat. Mereka bisa mengatasi kesulitan masyarakat atau sebaliknya -semoga Allah melindungi- menjadi pemicu ketidakpuasan. Karena itu, seluruh instansi negara harus memcurahkan perhatian dan menjalin koordinasi dalam berbagai masalah. Pererat ikatan kerjasama dan hindari perselisihan. Ini berkaitan dengan pemerintah.

Tentang Qom saya ingin mengutarakan beberapa patah kata. Qom adalah tempat lahirnya revolusi dan terjadinya peristiwa yang paling besar dalam sejarah negeri kita maupun dunia. Pandangan internasional terhadap kota Qom merupakan pandangan yang istimewa. Di sini banyak orang berdatangan dari berbagai negara. Mereka yang tidak datang ke sinipun punya pandangan yang khusus terkait kota Qom. Mereka menyorot dengan tajam semua peristiwa yang terjadi di kota ini. Pertemuan akbar yang Anda hadiri saat ini juga menjadi sorotan. Mungkin saja hal itu tidak diberitakan dan tidak dibicarakan. Namun semua itu tetap menjadi perhatian orang-orang yang menyusun dan melahirkan kebijakan. Mereka memperhitungkan dan memandang kota ini dengan kacamata internasional. Hauzah ilmiah dan pusat kajian Islam terbesar di dunia ada di kota ini. Tidak ada satupun hauzah yang sebesar hauzah ilmiah Qom. Disinilah kutub ziarah dan spiritualitas. Di sini ada makam suci Hz Ma’sumah yang megah. Di sini ada Masjid Jamkaran. Di sini terdapat banyak makam putra-putri para Imam Ahlul Bait. Satu saja dari makam-makam tersebut jika terletak di salah satu kota maka akan menjadi pusat kota itu. Semua ini menunjukkan potensi dan kapasitas Qom dari pandangan nasional dan internasional.

Di zaman rezim thaghut kota Qom sangat dibenci oleh rezim. Akibatnya kota ini terpuruk dalam ketertinggalan yang parah. Ketertinggalan ini harus diatasi secepatnya oleh para pejabat yang terhormat. Memang, sejak kemenangan revolusi banyak pekerjaan yang sudah dilaksanakan untuk kota ini. Sejak tahun 1379 (1990) ketika Qom resmi menjadi provinsi anggaran untuk daerah ini meningkat tajam, dan puncaknya terjadi setelah tahun 1384 (2005). Banyak pekerjaan yang sudah dilaksanakan dengan baik, namun semua itu harus disempurnakan sehingga kota ini maju sesuai dengan kebutuhan warganya maupun dari sisi tata kotanya. Untuk mengatasi semua ketertinggalan ini diperlukan kerja keras.

****

Poin terakhir yang terkait para pejabat kota ini. Jika di antara mereka ada perselisihan jangan sampai hal itu menyentuh kehidupan masyarakat sehingga menyusahkan rakyat. Memang ada perselisihan di antara berbagai instansi yang terkadang sampai menyentuh ke tengah kehidupan rakyat. Saya mengimbau semua pejabat untuk saling bergandengan tangan. Beri pangabdian kepada rakyat dengan kerjasama di antara para pejabat. Masyarakat juga akan memberikan dukungan mereka seperti yang selama ini mereka tunjukkan. Dengan demikian pekerjaan yang sudah dimulai di negara ini bisa terselesaikan dan manfaatnya dapat diperlihatkan kepada Dunia Islam.

Ilahi! Demi Muhammad dan keluarga Muhammad turunkanlah berkahMu untuk masyarakat yang mulia ini dan seluruh rakyat Iran. Ilahi! Sadarkanlah kami untuk menghargai perjuangan dan pengabdian orang-orang yang telah membawa gerakan yang agung ini sampai kepada kondisi yang sekarang. Ilahi! Demi Muhammad dan keluarga Muhammad, jadikanlah kami prajurit Islam yang hakiki. Berilah taufik dan pertolonganMu kepada para pejabat dan pengabdi negeri ini. Dengan bantuanMu mudahkanlah tugas mereka dalam mengabdi kepada masyarakat. Jadikanlah kalbu suci Imam Wali ‘Asr (arwahuna fidahu) ridha terhadap kami. Jadikanlah kami pengikut setia beliau di masa ghaibah dan masa kedatangannya kelak.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

(DaTa/khamenei.ir)

No Response

Leave a reply "Pidato Rahbar di Komplek Haram Hz Ma’sumah, Saat Berkunjung ke Kota Suci Qom"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.