Rahbar: Manfaatkan Momentum Haji untuk Memupuk Persatuan

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei hari ini (9/10) dalam pertemuan dengan para pejabat dan pengurus haji menekankan bahwa perilaku para hujjaj Iran harus merefleksikan seluruh dimensi dan tanggung jawab individu, spiritual, peribadatan, sosial dan politik dari kewajiban haji yang agung dan membanggakan.

Dalam pertemuan itu beliau menyebut haji yang dilaksanakan dengan benar dan sempurna sebagai sumber pancaran mata air yang bisa dimanfaatkan oleh umat Islam dan umat manusia. “Dengan adanya berbagai kesulitan dan kepedihan internal yang dialami umat Islam serta kondisi yang ada di tengah masyarakat internasional, pelaksanaan ibadah haji dengan benar dan sempurna semakin dirasa urgen dan lazim,” kata beliau.

Seraya mengingatkan upaya musuh-musuh Islam yang berkesinambungan untuk memunculkan rasa rendah diri, sikap pasif dan pesimisme di tengah umat Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, “Gerakan besar secara kolektif, benar dan bertanggung jawab dari umat Islam saat melaksanakan ibadah haji dapat melahirkan rasa bangga, kuat dan optimisme di Dunia Islam.”

Ayatollah al-Udzma Khamenei menyinggung adanya berbagai kubu penentang Islam dan kebenaran yang sudah merapikan barisan untuk melawan agama Islam, seraya menandaskan, “Kondisi saat ini mirip dengan kondisi perang Ahzab. Pentas persatuan dan keagungan umat Islam dalam ibadah haji dapat melemahkan mental front musuh-musuh Islam.”

Kaum arogan dan sistem kuasa, kata beliau, tidak pernah berhenti menyusun strategi untuk mencari kelemahan dan menyusup ke dalam Dunia Islam. “Mereka dengan jeli menonjolkan titik-titik yang diperselisihkan umat Islam, sementara ibadah haji yang mempersatukan umat ini dapat menggagalkan semua agenda mereka,” imbuh beliau.

Menurut Rahbar, persatuan adalah kebutuhan dunia Islam yang paling mendesak saat ini. Beliau mengatakan, “Kaki tangan Zionisme dan Amerika Serikat terus memantau dan tak pernah membiarkan umat Islam saling mendekat diantara mereka. Setiap kali tanda-tanda kedekatan mulai nampak, mereka akan langsung mengadu domba dengan mengangkat isu-isu perselisihan seperti perbedaan madzhab, suku, kelompok dan berbagai isu-isu lainnya.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam lantas menyatakan bahwa permusuhan terbuka kubu arogansi dunia terhadap Islam telah menjadi faktor kebangkitan Dunia Islam. Meski demikian beliau mengingatkan, “Bangsa-bangsa dan pemerintahan di negara-negara Muslim harus mawas diri dan mengamati segala bentuk konspirasi dan tipu daya musuh yang berhasrat menebar perpecahan. Sebab jika tidak, Islam akan mendapat pukulan telak dari kubu arogansi yang menjadi musuhnya.”

Ayatollah al-Udzma Khamenei lebih lanjut menjelaskan modus yang digunakan musuh-musuh umat Islam dalam menciptakan perpecahan dan konflik di tengah kaum muslimin diantaranya dengan menumbuhkan ekstrimisme di kalangan Syiah dan Sunni. Beliau menyeru seluruh bangsa dan negara Muslim untuk pandai-pandai bersikap. “Umat Islam harus menyadari secara mendalam soal kebutuhannya kepada kesepahaman, solidaritas, dan kerjasama,” kata beliau. Rahbar juga mengimbau umat Islam untuk komitmen dengan semua hal yang berhubungan dengan persatuan Islam.

Beliau mengupas lebih mendalam potensi ibadah haji dalam mendorong terciptanya dialog dan kesepahaman terkait berbagai permasalahan penting Dunia Islam termasuk menyangkut isu Palestina, seraya mengatakan, “Sebagai sebuah partai politik, Zionisme ditolak mentah-mentah oleh umat Yahudi. Lebih dari 60 tahun mereka merampas dan menduduki negeri Islam yang bernama Palestina dan kiblat pertama umat Islam. Setiap hari mereka melakukan tindak kejahatan. Namun demikian, sebagian besar negara Islam memilih bungkam saat mendengar rintihan bangsa Muslim Palestina yang meminta pertolongan. Ibadah haji yang agung ini bisa mengikis sikap pasif dan perselisihan ini hingga ke akarnya, sekaligus menciptakan dukungan kolektif umat Islam kepada bangsa Palestina.”

Di bagian lain pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengkritik berbagai tekanan dan gangguan yang dialami para peziarah dan jamaah haji Iran selama menjalankan ibadah di kota Mekah dan Madinah. “Di pihak lain ada sekelompok orang yang menunjukkan reaksi dengan melakukan hal-hal yang tidak benar. Baik tekanan dan gangguan maupun reaksi yang tidak benar itu sama-sama bertolak belakang dengan falsafah dan tujuan ibadah haji,” tegas beliau.

Pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan jamaah haji Iran, kata beliau, sudah jauh lebih berbobot dibanding kondisi 30 tahun yang lalu. Meski demikian, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengingatkan, “Perkembangan yang ada masih belum cukup. Harus diupayakan supaya perilaku semua jamaah haji dari Iran menunjukkan perilaku yang benar ditinjau dari sisi perorangan, ibadah, sosial maupun politik yang terkandung dalam haji sekaligus merefleksikan solidaritas dan persatuan umat Islam.”

Salah satu dimensi sosial dan politik dari ibadah haji, menurut beliau, mendorong umat Islam untuk mengulurkan bantuan kepada para korban bencana banjir Pakistan. Beliau menambahkan, “Rakyat dan pemerintah Iran terus mengulurkan bantuan untuk rakyat di negara tetangga Pakistan, dan Allah pasti akan membalas kebaikan ini. Namun semua itu masih belum cukup. Para jamaah haji dari Iran bisa menekan pengeluaran yang tidak perlu dalam menjalankan ibadah haji untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka di Pakistan. Lebih dari itu, lewat tindakan dan kata-kata, mereka bisa mengajak para hujjah dari negara-negara lain untuk ikut membantu para korban bencana.”

Di bagian lain, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengimbau para penanggung jawab urusan haji serta pejabat Bi’tsah dan Lembaga Haji dan Ziarah untuk berupaya menggelar ibadah haji dengan benar dan sempurna. Beliau juga meminta mereka untuk memberikan perhatian yang penuh kepada program haji yang sudah dicanangkan untuk kemudian mengevaluasi titik positif dan kelemahannya serta memperbaiki program-program haji.

Di awal pertemuan, Wakil Wali Faqih untuk urusan haji dan Amir Haji Iran, Hojjatul Islam wal Muslimin Qazi Askar dalam laporannya tentang program haji tahun ini mengatakan, “Diantara program yang sudah dicanangkan oleh Lembaga Bi’tsah adalah memberikan perhatian penuh kepada pelatihan para hujjaj dan petugas haji, memperluas pelatihan haji lewat fasilitas internet, mengesahkan program pendidikan tabligh haji, memperluas hubungan internasional dengan negara-negara lain, memberikan perhatian penuh kepada penelitian dan upaya penyusunan ensiklopedia lengkap tentang haji.”

Dalam pertemuan itu, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Hosseini juga menyampaikan laporannya tentang pelaksanaan haji. Hosseini mengatakan, “Pelayanan untuk menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji telah tersedia. Koordinasi dan kerjasama diantara semua instansi terkait juga telah dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan ibadah haji Ibrahimi.”

(DaTa/khamenei.ir)

No Response

Leave a reply "Rahbar: Manfaatkan Momentum Haji untuk Memupuk Persatuan"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.