Wawancara Lengkap Amien Rais Soal Pembakaran Al-Quran

Pemimpin Besar Republik Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, kepada umat Islam, baru-baru ini merilis statemen terkait penistaaan atas al-Quran. Statemen Rahbar itu bahkan dijadikan sebagai dokumen resmi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Belum lama, pendeta “sinting” Terry Jones, menyerukan pembakaran al-Quran. Bukan hal yang penting bahwa apakah Terry Jones, pendeta gereja di AS menangguhkan rencana pembakaran al-Quran atau tidak? Akan tetapi upaya itu berhasil memprovokasi kalangan ekstrim di AS yang akhirnya melakukan penyobekan al-Quran dekat kawasan bekas gedung kembar WTC yang menjadi saksi serangan 11 September. Sekelompok orang lainnya juga berani melakukan penyobekan al-Quran di depan Gedung Putih. Aksi sinting tersebut dilakukan di depan turis-turis yang tengah berjalan-jalan di sekitar Gedung Putih. Selain itu, acara pembakaran al-Quran juga terjadi di dua gereja negara bagian Tennessee.

Mengingat pentingnya isu pembakaran al-Quran, kantor Rahbar melayangkan surat kepada seluruh seksi televisi dan radio berbahasa asing IRIB, termasuk Radio Bahasa Indonesia, untuk mewancarai tokoh nasional yang kemudian akan dijadikan sebagai komitmen terbuka dan pertimbangan kebijakan Republik Islam Iran dalam menyikapi penyobekan dan pembakaran al-Quran di AS.

Berdasarkan keputusan meja redaksi Situs Radio Bahasa Indonesia, Bapak Amien Rais dipilih sebagai tokoh yang tepat dalam menanggapi isu kontroversial berkaitan penyobekan dan pembakaran al-Quran.

Amien Rais mensyukuri pembatalan al-Quran yang rencananya akan dilakuakn secara demonstratif di AS dalam rangka memperingati serangan 11 September. Amien Rais ketika dihubungi IRIB, Sabtu (18/9) menyatakan, “Terry Jones itu adalah pendeta komunitas kecil Kristen di AS yang ingin terkenal dengan cara mau membakar al-Quran secara demonstratif.”

Lebih lanjut Amien Rais menjelaskan adanya gerakan Islamophobia di balik peristiwa itu. Dikatakannya pula, “Setelah rencana pembakaran al-Quran itu dicuatkan, ummat Islam tersinggung dan marah. Meski gagal, tapi ketersinggungan atas rencana itu tidak hilang begitu saja. Yang sangat disayangkan lagi, Presiden AS, Obama tidak langsung menyikapi rencana pembakaran al-Quran itu. Apa yang dilakukan oleh Obama hanya sebatas singgungan-singgungan, bukan tindakan tegas.”

“Saya marah dan tersinggung berat atas rencana pembakaran al-Quran itu, ” tegas Amien Rais.

Amien Rais dalam wawancaranya juga mengatakan, ummat Islam tidak seharusnya terprovokasi atas rencana pembakaran al-Quran itu. Dijelaskannya, “Tidak terprovokasi bukan berarti bungkam. Akan tetapi pada saat yang sama, ummat Islam tidak boleh membakari gereja-gereja dan mengamuki setiap kristiani. Ini adalah langkah yang tidak benar. Kita cukup menghubungi para tokoh Kristen supaya menyikapi dan mengecam rencana pembakaran al-Quran yang digalang Terry Jones.

” Dalam wawancara dengan IRIB, Amien Rais juga menegaskan adanya elite di negara-negara Eropa dan AS yang anti Islam. Selain itu, Amien Rais juga mengingatkan kalangan kristiani supaya mewaspadai tindakan-tindakan islamophobia yang bisa menjauhkan dari kehidupan bertoleransi antaragama.

Ketika ditanya apakah rencana rencana pembakaran al-Quran itu berhubungan dengan skenario Zionis Israel, Amien Rais menjawab, “Ada kemungkinan bahwa skenario itu dirancang oleh Zionis Israel, tapi itu hanya sebatas dugaan saja. Jadi, kita hanya bisa menilai berdasarkan lahiriah saja seperti yang disinggung hadis Rasulullah Saw; “Kami hanya menghukumi sesuatu berdasarkan lahiriah. Untuk itu, adanya skenario Zionis Israel di balik al-Quran itu bisa benar dan bisa salah.”

Lebih lanjut Amien Rais menjelaskan, “Tanpa harus mengaitkan dengan Zionis Israel, kami sudah bisa menilai bahwa tindakan Terry Jones itu bertentangan dengan kerukunan beragama dan kehidupan saling menghormati keyakinan lainnya.”

Berikut Wawancara Lengkapnya

(DaTa/IRIB)

No Response

Leave a reply "Wawancara Lengkap Amien Rais Soal Pembakaran Al-Quran"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.