Rahbar: Musuh Terus Merosot, Iran Kian Menanjak

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa menyebut pertemuan dengan para mahasiswa hari (22/8) ini sebagai salah satu pertemuan yang terindah seraya menegaskan keharusan untuk menindaklanjuti materi yang telah dipaparkan para mahasiswa. Beliau menyatakan sangat terkesan dengan bebagai pandangan para mahasiswa dalam petemuan ini dan pemaparan berbagai materi yang telah dipikirkan secara matang dan agumentatif.

Beliau memuji ketajaman dan kedalaman pandangan para utusan dari berbagai himpunan mahasiswa dan menyebutnya sebagai bukti akan potensi besar pemikiran bersama dalam himpunan kemahasiswaan. “Materi yang telah disampaikan pada pertemuan ini bisa menjadi ajang bagi penajaman pemikiran dan upaya mencapai hakikat kebenaran,” kata beliau.

Mengenai usulan salah seorang mahasiswa tentang kelaziman tanya jawab dan kritik di kalangan mahasiswa, Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, “Mahasiswa adalah elemen terbaik di sebuah negara. Karena itu, para pejabat negara harus tejun ke tengah mahasiswa untuk mendengarkan pertanyaan dan memberikan jawaban kepada elemen yang terdidik, berpemikiran dan penuh semangat ini.”

Beliau menyinggung perbedaan antara pertanyaan dan kritik di satu sisi dengan penentangan di sisi lain seraya menjelaskan, “Mahasiswa jangan sampai berprasangka bahwa mereka mengemban tugas untuk menentang lembaga-lembaga negara. Yang harus mereka lakukan adalah bertanya dan meminta jawaban dari para pejabat negara.”

Menanggapi pernyataan seorang mahasiswa mengenai dua pandangan terkait kondisi yang ada saat ini yaitu pandangan yang mengedepankan persatuan dan pandangan kedua yaitu memanfaatkan kondisi untuk melakukan seleksi lebih ketat akan kekuatan revolusi yang sesungguhnya, Ayatollah al-Udzma Khamenei membenarkan kedua pandangan itu, namun menambahkan, “Membersihkan masyarakat dari anasir kotor tidak bisa dilakukan dengan kekerasan dan aksi anakhisme. Islam tidak pernah memerintahkan siapapun untuk menghalau orang-orang lemah iman hanya karena alasan untuk membersihkan masyarakat.”

Menurut beliau membesihkan masyarakat harus dilakukan dengan cara yang benar dengan meningkatkan kebersihan di tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. “Semua orang harus memulai upaya membersihkan diri, keluarga dan kelompoknya,” jelas beliau.

Mengenai persatuan, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa persatuan harus berdasarkan prinsip. “Siapa saja sebesar hubungannya dengan prinsip bersama berarti ia masih menjalin persatuan dengan kita. Namun siapa saja yang menolak prinsip-prinsip tadi maka ia sudah keluar dari lingkup yang bisa mempersatukannya dengan kita,” tegas beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung pernyataan salah seorang mahasiswa tentang kritik terhadap sejumlah orang dekat presiden, seraya mengatakan, “Saya tidak akan masuk ke pembahasan ini dan tidak akan memberi komentar. Tapi yang harus diingat adalah bahwa masalah inti harus dipisahkan dari masalah parsial. Jangan sampai salah menempatkan dua masalah ini.” Lebih lanjut beliau mengkritik sikap petinggi negara yang menampakkan perselisihan di antara mereka kepada publik. “Saya sudah memberikan peringatan keras terkait masalah ini,” kata beliau.

Di bagian akhir pembicaraannya, beliau mengimbau para mahasiswa untuk tidak terjebak dalam permainan politik praktis. Beliau mengatakan, “Setiap mahasiswa dan himpunan kemahasiswaan pasti punya latar belakang pemikiran masing-masing. Tapi perbedaan ini jangan sampai menciptakan gesekan dan perseteruan.”

Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Mahasiswa harus tanggap terhadap transformasi yang berhubungan dengan nasib negara dan mampu menganalisa berbagai masalah seperti Deklarasi Tehran, resolusi Dewan Keamanan PBB, dan sanksi sepihak Amerika Serikat dan Eropa.”

Beliau mengimbau mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan seraya menyinggung kemajuan gerakan keilmuan dan teknologi di negara ini dan mengatakan, “Infra struktur untuk mendukung gerak laju kemajuan sains dalam skala besar di negara ini sedang dalam tahap pembangunan. Sementara, dari sisi spiritualitas tuntutan semakin besar dan rasa tidak puas dengan apa yang sudah diraih semakin meningkatkan harapan akan masa depan.” Rahbar menjelaskan kemerosotan musuh di saat bangsa Iran sedang bergerak maju dan terus mengukir prestasi.

Beliau mengatakan, “Meski menghadapi berbagai konspirasi musuh, dalam 32 tahun terakhir, bangsa Iran terus bergerak maju. Dan insya Allah dengan bekal iman, tekad dan kemauan, bangsa ini akan terus melanjutkan geraknya yang penuh dengan kebanggaan ini.” Ayatollah al-Udzma Khamenei mewanti-wanti para mahasiswa untuk memanfaatkan masa muda dan menjalin hubungan yang lebih akrab dengan Allah Swt yang merupakan sumber hakikat dan keindahan. “Membersihkan jiwa, menjaga kesucian dan kebersihan hati di masa muda jauh lebih mudah daripada melakukannya di usia baya dan tua,” kata beliau. Langkah paling penting untuk membersihkan jiwa menurut beliau adalah dengan meninggalkan dosa. “Setelah meninggalkan dosa, shalat adalah kewajiban yang paling penting di jalan ini, khususnya shalat di awal waktu dan melakukannya dengan khusyuk,” imbuh beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, “Di bulan Ramadhan, puasa, membaca al-Qur’an, membaca Sahifah Sajjadiah dan shalat sunnah adalah langkah-langlah lainnya yang mesti dilakukan dalam rangka menyucian jiwa.” Beliau mengingatkan, “Faktor terpenting dalam yang membuat seseorang tergelincir dalam bebagai tahap kehidupan individu dan sosialnya adalah dosa yang ia lakukan. Karena itu di masa muda orang harus membiasakan diri mengindari dosa dan tidak menyimpang dari jalan yang besar dalam mengarungi kehidupan.”

Pertemuan yang berlangsung lebih dari 3 jam ini diawali dengan pembicaraan sejumlah mahasiwa dan diakhiri dengan shalat Maghrib dan Isya secara berjamaah dengan dipimpin Ayatollah al-Udzma Khamenei. Usai shalat, para mahasiswa berbuka puasa dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam. (DaTa/khamenei.ir)

No Response

Leave a reply "Rahbar: Musuh Terus Merosot, Iran Kian Menanjak"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.