Kapan Kita Mulai Bicara Hak dan Hidup?

karl-max

Karl Max

Immanuel Kant dalam filsafat moralnya pernah merangkum pertanyaan-pertanyaan penting yang merupakan rumusan untuk menyingkap “eksistensi manusia”. Rumusan itu dimulai dengan tiga pertanyaan; dari mana, di mana, dan akan ke mana, yang terangkum dalam sebuah pertanyaan singkat; “Apakah manusia?”

Jika tiga rumusan itu jika didegradasikan dan diadaptasikan dalam kehidupan manusia, maka akan mencerminkan tindakan dan keberanian yang cukup untuk mau berbeda dan siap bertanggungjawab atas eksistensinya. Menjadikannya punya kepercayaan yang memadai pada nasib hidupnya dan lingkugan sekitar. Sampai-sampai Ali bin Abi Thalib berdoa: “Semoga Allah memberkati seorang hamba yang mempersiapkan diri dan liang lahatnya, serta tahu dari mana ia datang, di mana ia berada, dan akan ke mana ia pergi”. Yakni, menyadari posisi terkininya di dunia serta jujur nasib diri, kembali kepada diri sendiri, merdeka dan keluar dari segala kesibukan yang menimbuninya, dari yang diangankan sampai yang sedang dijalani. Ia menemukan dirinya menjadi diri sendiri serta mandiri dalam berpikir, berkehendak dan bertindak.

Semua orang itu sama kedudukan, hak dan kebebasannya. Dan hanya akan menjadi masuk akal dan terasa damai bila kita serahkan kebebasan, hak dan kedudukan kita di dunia ini kepada sumber kebebasan. Di tanganNya terdapat hak atas kita yang harus diakui, yang kalau Dia tuntutkan sepatutnya kita penuhi. Namun, selama masing-masing kita menyadari kedudukan manusiawi dan kebebasan kita ini adalah karuniawi, selama itu pula kita tidak sepatutnya mengakui hak dan kebebasan setiap kita untuk menyentuh kedudukan atau membatasi kebebasan satu sama lain. Tegasnya, kenyataan asal usul takdir kita ke dunia ini menegaskan hukum dasar kebebasan dan kesetaraan hak hidup manusia.

Lalu, jika kita turun ke dalam kehidupan masyarakat, dengan hak dan kebebasan, apa yang semestinya kita baca di dalamnya? Turun bermasyarakat merupakan tindakan beresiko yang membutuhkan kesadaran lebih dari sekedar mengisi lambung atau beramah tamah dan komat kamit cipika cipiki. Apalagi di dunia semodern sekarang ini. Interaksi yang saling membelit rumit dan tranformasi yang begitu ketat serta cepat memberikan berbagai kemungkinan buruk untuk akhir hidup kita, sebanyak kemungkinan baik yang bisa kita temukan di dalamnya. Maka, awal yang lazim dilakukan dan dibaca ialah berusaha memahami posisi aktual dan keterkaitan hidup di dalam masyarakat, aktualisasi diri, bahwa dalam hak diri terangkum hak yang lain, dalam kebebasan diri termaktub kemerdekaan yang lain. Sebuah kesadaran manusiawi, modal bertindak untuk tidak tetap anteng menjalani sapi perah dan tak terlampau “sopan” dengan suasana sekitar.

Memang betul bahwa, mujur naasnya hidup seseorang berada di tangannya, bahwa masing-masing berkuasa atas diri dan hidupnya sendiri. Namun, tampaknya hukum ini tidak lagi relevan dengan realitas masyarakat dan kehidupan politik kita yang sudah distrukturkan dan dipaksa untuk memilih dua opsi, sebagai budak atau tuan kekuasaan.

Sederhananya, siapapun yang berada di dalam sebuah masyarakat akan menemukan dirinya sebagai budak atau tuan kekuasaan. Padahal, hak dan kebebasan kehidupan, mengangkat kemerdekaan hidup, kesetaraan hak, dan kekuasaan menentukan nasib sendiri setinggi-tingginya. Di dalamnya tidak disinggung budak atau tuan, tidak pula tanggungjawab atau kewajiban yang membebani, ataupun pembatasan yang menghalangi.

Tanpa keharusan terpaksa menolak salah satu atau kedua-duanya, tuntutan hukum kehidupan dan realitas kemasyarakatan, barangkali perlu diperiksa mata rantai yang lepas di antara keduanya yang mesti disambungkan kembali. Beranjak dari klarifikasi atas keberadaan kita di dalam masyarakat sehingga menjadi sebuah pilihan yang sehat yang sadar akan resiko. Takdir kita lahir di suatu masyarakat secara determinatif tidak berarti bahwa kita pun harus menerima sampai mati tatanan dan aturan-aturan yang berkuasa di dalamnya.

Memilih turun dan bertahan di dalam masyarakat berarti kita siap setidak-tidaknya untuk mendefinisikan posisi dasar kita di dalam masyarakat itu, mesti siap mempertanyakan segala macam tanggungjawab sebesar kepuasan kita menerima hak, kemerdekaan dan kekuasaan diri kita sendiri. Apakah kita hidup sebagai budak ataukah tuan kekuasaan? Dan secara lebih menukik lagi, kita akan mencoba memastikan hak dan tanggungjawab dua posisi itu, yaitu “Kenapa aku harus hidup menjadi budak atau tuan?” Jika kita sebagai budak kekuasaan, kesadaran eksistensial di atas itu akan mengungkit kewajiban universal, yaitu “Atas dasar apa aku harus menjadi budak, atas dasar apa saya harus menjadi sapi perah? Begitu pula bila sebagai tuan, kita akan mengungkitnya dengan nada yang sama, “Atas dasar apa aku berhak memerintah dan menetapkan aturan dan undang-undang?”.

Mengharapkan masyarakat yang ideal yang elit penguasa dan rakyat di dalamnya sama-sama menjalankan hak hidup dan tanggung jawab mereka secara arif dan adil entah muluk-muluk entah realistis? Sebuah pertimbangan asasi, bahwa hak dan tanggungjawab terkecil yang mungkin dilakukan oleh kita ialah berusaha membangun masyarakat yang ideal, yang penguasa dan jajaran elit di dalamnya menjadi manusia-manusia yang berusaha adil dan mengadili, tidak cuek dan tidak anteng menjadi sapi perah dan pemerah. Namun, tampaknya, menunggu-nunggu tekad para penguasa dan elit menjadi adil itu terlalu ideal pada saat penguasanya tidak lagi adil.

No Response

Leave a reply "Kapan Kita Mulai Bicara Hak dan Hidup?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.