Berakhirnya Drama Penyanderaan Yang Memalukan

Setiap muslim pasti mendambakan kunjungan ruhani ke tanah suci dan berziarah ke makam Nabi Saw. Karenanya, safari ke Madinah menjadi kenangan yang indah bagi setiap Muslim. Lain halnya dengan Shahram Amiri. Kepergiannya ke Madinah menjadi kenangan pahit. Amiri tiba di bandara Jeddah tanggal 31 Mei 2009. Dia memendam kerinduan mendalam untuk berziarah ke makam Nabi Saw sebelum melaksanakan ibadah umrah.

Hari ketiga di kota Madinah, saat keluar dari hotel tempatnya menginap untuk berziarah ke haram nabawi, sebuah kendaraan mendadak berhenti di sampingnya. Salah seorang penumpang kendaraan itu dengan bahasa Farsi mendesak Shahram Amiri untuk masuk kendaraan dan bersama-sama pergi berziarah. Akhirnya tanpa kecurigaan sedikitpun, Amiri yang menduga para penumpang yang lain adalah peziarah seperti dirinya, masuk ke dalam mobil itu. Sesaat kemudian, seseorang menodongkan senjata api dan memaksanya untuk diam dan tidak berontak. Inilah awal dari drama penculikan Shahram Amiri, dosen dan peneliti Iran, oleh dinas intelijen AS bekerjasama dengan intelijen Arab Saudi.

Tak lama kemudian, Shahram Amiri dibawa ke Amerika Serikat (AS). Di sebuah sel penahanan ia harus melewati proses interogasi secara maraton. Akhirnya, CIA sadar bahwa dinas intelijen ini salah tangkap. Shahram Amiri yang diduga ilmuan nuklir ternyata tak tahu menahu soal program nuklir Iran. Sudah kepalang basah, CIA akhirnya berusaha memanfaatkan Amiri untuk kepentingan propaganda anti Iran.

Mengenai penculikan atas dirinya, Amiri mengatakan, “Dalam dua bulan pertama penahanan di AS, saya mendapat siksaan dan tekanan psikologis yang sangat keras dari tim interogasi agen rahasia AS. Beragam tekanan itu bertujuan untuk memaksa saya memberikan pengakuan palsu dalam wawancara dengan sebuah chanel TV berita AS. Saya didesak supaya mengaku sebagai tokoh penting dalam program nuklir Iran dan meminta suaka politik kepada AS atas kemauan saya sendiri. Saya juga dipaksa untuk mengakui bahwa dalam proses permintaan suaka itu saya turut membawa ke AS beragam bukti dan dokumen penting Iran dengan sebuah laptop yang berisi data rahasia program nuklir Iran.” Semua yang dilakukan CIA tidak membuahkan hasil, sebab Shahram Amiri menolak tunduk kepada kemauan AS.

Tahun lalu, tak lama setelah Amiri dinyatakan hilang di Arab Saudi, Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki mengatakan bahwa Tehran mengantongi data akurat yang menunjukkan bahwa Amiri diculik oleh agen AS di Arab Saudi. Mottaki lantas menyebut Riyadh bertanggung jawab atas penculikan Amiri. Namun, baik Washington maupun Riyadh sama-sama mengaku tidak mengetahui keberadaan Amiri.

Berikutnya, peneliti Universitas Malik Ashtar itu dipindahkan dari sebuah pangkalan militer ke sebuah tahanan rumah. Di sana ia mendapat fasilitas komunikasi terbatas yang dikontrol penuh oleh CIA. Beberapa waktu kemudian, intelijen Iran berhasil menjalin kontak dengan Shahram Amiri. Dalam kontak itu, Amiri mengirimkan beberapa dokumen penting yang menunjukkan penculikan atas dirinya. Dokumen itu lantas ditunjukkan kepada Duta Besar Swiss yang mewakili kepentingan AS di Iran untuk disampaikan kepada para petinggi Gedung Putih.

Terjalinnya kontak antara intelijen Iran dan Shahram Amiri mengawali sebuah episode baru dari drama penculikan itu, yaitu episode perang intelijen. CIA yang namanya begitu menggetarkan dunia spionase tak pernah menduga bahwa intelijen Iran berhasil membuat rekaman video Amiri yang lantas disiarkan lewat televisi resmi pemerintah Iran. Dalam rekaman video itu Shahram Amiri menjelaskan proses penculikan dan mengungkapkan lokasi keberadaan dirinya. Amiri juga meminta pihak Iran untuk mengupayakan pembebasannya.

Penayangan video itu ibarat tamparan keras ke muka dinas keamanan AS yang lantas memindahkannya ke lokasi lain. Dalam video itu Amiri dengan jelas menyebut dirinya ditahan oleh Dinas Intelijen AS (CIA). Yang menarik adalah reaksi CIA. CIA secara konyol memaksa Amiri untuk duduk manis di depan kamera dan mengatakan apa yang sudah didiktekan oleh dinas rahasia ini kepadanya. Dalam video itu Amiri membantah isi rekaman video pertama dan mengaku bahwa dirinya hidup bebas di AS untuk melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi di negara itu. Film itu dibuat dengan konyol dan semua orang yang menyaksikannya pasti menyimpulkan bahwa Amiri tidak mengucapkan kata hatinya tapi membaca sebuah teks yang sudah dipersiapkan.

Poin penting lain dalam drama penculikan ini adalah keberhasilan Amiri untuk melarikan diri. Tanggal 14 Juni lalu, Amiri sempat lolos dari tangan CIA. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk membuat rekaman video ketiga yang kemudian disiarkan oleh televisi Republik Islam Iran. Dalam rekaman video itu, ia menyatakan keinginannya untuk kembali ke Iran sekaligus menyebut pemerintah AS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan dirinya. CIA akhirnya berhasil menangkap Amiri kembali, namun kondisi sudah berubah. Amiri sudah membeberkan semuanya. Pemerintah AS akhirnya mengakui bahwa Amiri memang berada di negara itu. AS pun terpaksa mempersilahkan Amiri untuk kembali ke Iran jika mau. Kepulangan Shahram Amiri adalah kekalahan intelijen AS dalam operasi penculikan, penahanan hingga pemanfaatannya untuk propaganda anti Iran. Amiri tiba di Tehran 15 Juli lalu dan disambut secara hangat oleh pejabat resmi pemerintah Iran dan keluarga.

Bukan AS kalau mau mengakui kekalahan. Setelah operasi penculikan Shahram Amiri gagal total dan bahkan menorehkan belang di muka AS, seperti biasa Washington mengerahkan mesin-mesin propagandanya untuk meringankan beban yang ada. Koran Washington Post beberapa hari lalu memuat sebuah laporan dari seorang pejabat intelijen AS yang seperti biasa tak bersedia disebut nama dan identitasnya. Pejabat ini mengaku bahwa Shahram Amiri telah memberikan informasi-informasi berharga dengan imbalan uang sebesar lima juta USD. Padahal, Amiri dalam wawancara khususnya di Tehran mengatakan bahwa ia bukan pakar nuklir dan tak lebih dari seorang peneliti biasa di bidang Fisika Medikal atau Medical Physics. Amiri mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu soal program nuklir dan tidak pernah terlibat dalam program rahasia apapun.

Amiri juga membantah berita Washington Post tentang uang sebesar 5 juta USD yang katanya ia terima sebagai imbalan informasi rahasia. Dalam hal ini Gennady Yefstafiyev, mantan jenderal yang bertugas di badan intelijen Rusia (FSB) mengatakan, “AS bahkan tidak pernah memberikan uang sebesar itu kepada agennya yang paling bernilai di bekas Uni Soviet. Tujuan mereka membuat berita ini adalah untuk memburukkan Amiri yang kini sudah berada di negaranya. Tapi modus seperti ini justeru merugikan AS sendiri.”

Langkah lain yang dilakukan media AS adalah menyebut Amiri sebagai orang yang selama sepuluh tahun terakhir rajin memberi laporan berharga terkait nuklir Iran kepada AS. Isu inipun ditepis sendiri oleh petinggi AS. Flynt Leverett, penasehat dan pakar Timur Tengah di masa pemerintahan George Bush menyebut pemberitaan ini sebagai isu yang menggelikan. Leverett mengatakan, “Bagaimana orang bisa percaya sementara Amiri saat ditangkap masih berusia 31 tahun? Untuk bisa mencapai informasi penting dan strategis, minimal ia sudah harus terlibat dalam program ini sepuluh tahun lamanya. Itu berarti bahwa ia sudah harus menyelesaikan doktoralnya ketika masih usia remaja dan berhasil mencapai posisi penting di usia 20 atau 21 tahun.”

Gedung Putih mengaku bahwa Shahram Amiri datang ke AS atas kemauan sendiri bahkan ia disebut-sebut datang untuk meminta suaka politik. Memang, AS akhirnya terpaksa menepis soal suaka politik yang sebelum ini diungkap secara besar-besaran. Washington hanya menyebut Amiri datang untuk melanjutkan studi. Menlu AS Hillary Clinton setelah pembebasan Amiri mengatakan, “Shahram Amiri ada di tangan pemerintah AS dan dia bebas untuk kembali ke negaranya.” Namun, data yang ada justeru menolak klaim AS.

Televisi chanel France 24 dalam laporannya terkait masalah ini menyatakan, “Para pejabat AS harus menjelaskan bagaimana Shahram Amiri bisa masuk ke AS dan mendapatkan visa. Padahal untuk masuk ke Amerika diperlukan dokumen yang sulit didapat apalagi oleh warga Iran.” Hal senada juga disampaikan Franklin Lamb, seorang pengacara internasional. Lamb kepada Press TV mengatakan, “Untuk bepergian ke Luar Negeri, orang mesti mengantongi paspor dan identitasnya akan tercatat. Sedangkan terkait Amiri, tidak ada dokumen apapun yang menunjukkan dia bepergian ke AS. Bagaimana hal itu bisa dijelaskan jika bukan karena Amiri diculik?” Lamb menjelaskan bahwa dokumen yang ia maksud adalah tiket pesawat, airport tujuan, formulir imigrasi, laporan kepolisian dan dokumen-dokumen semisal yang tidak dimiliki Amiri di AS. Hal menarik lainnya adalah paspor Shahram Amiri yang masih tertinggal di Arab Saudi. Amiri mengaku bahwa sejak awal tiba di Arab Saudi, dia dipaksa menjawab sejumlah pertanyaan yang tidak wajar. Tak heran jika peneliti Iran ini meyakini bahwa penculikan atas dirinya adalah kerjasama agen AS dan Arab Saudi. (IRIB/sa)

No Response

Leave a reply "Berakhirnya Drama Penyanderaan Yang Memalukan"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.