Amalthea, Konspirasi Baru Israel dengan Tiga Kejanggalan

Anda tentu ingat Mavi Marmara. Nama sebuah kapal yang bagi rezim Zionis Israel bak mimpi buruk tanpa akhir. Nama yang mampu mengubah secuil pendapat negatif terhadap Israel dalam diri seseorang menjadi segunung kebencian. Tapi bagaimana dengan Rachel Corrie? Cukup sulit melupakan nama tersebut khususnya bagi yang mengamati masalah Palestina. Rachel Corrie adalah seorang aktivis perempuan asal Irlandia yang gugur karena menghadang buldoser rezim Zionis saat merusak rumah warga Palestina.

Namanya selalu abadi dalam catatan sejarah perjuangan melawan kejahatan rezim Zionis Israel. Untuk mengenang dan meneladani perjuangannya, nama Rachel Corrie kembali diukir di badan sebuah kapal bantuan kemanusiaan untuk warga Jalur Gaza yang diblokade rezim Zionis.

Kapal bantuan kemanusiaan Rachel Corrie pun berangkat meninggalkan pelabuhan di Irlandia menuju Jalur Gaza. Para aktivis di atas kapal Rachel Corrie membulatkan tekad untuk meluncur ke Gaza meski ada ancaman dari militer Zionis. Apalagi keberangkatan Rachel Corrie, tidak lama setelah serangan brutal militer Israel terhadap kapal Mavi Marmara, di konvoi bantuan kemanusiaan Freedom Flotilla. Serangan yang merenggut nyawa 20 aktivis.

Singkatnya, ketika mendekati perairan Gaza, kapal Rachel Corrie dihadang sebuah kapal perang militer Zionis. Para aktivis Rachel Corrie ngotot untuk tetap melanjutkan pelayarannya menuju Gaza meski mendapat ancaman dari militer Israel. Di sisi lain, Israel tidak dapat menggunakan kekerasan dalam hal ini menyusul gelombang amarah dunia atas peristiwa di atas kapal Mavi Marmara belum reda.

Pada akhirnya Rachel Corrie berhasil digiring oleh militer Zionis menuju pelabuhan Ashdod di Israel. Namun perlu diingat bahwa kapal Rachel Corrie sempat mengubah haluan menuju Gaza saat dikawal kapal tempur Zionis. Kecaman dan protes pun kembali menghujani Israel.

Drama Rachel Corrie belum berakhir. Sabtu 5 Juni, warga Irlandia berunjuk rasa di Dublin mengecam pemerintah soal kapal Rachel Corrie. Ternyata, pemerintah Irlandia berada di balik perubahan rute Corrie menuju Gaza. Kementerian Luar Negeri Irlandia mendapat tekanan dari Israel untuk mencegah kapal Rachel Corrie sampai ke Jalur Gaza. Deplu Irlandia pula yang menekan awak dan aktivis di kapal Rachel Corrie untuk menuruti perintah Israel.

Meski demikian, Freedom Flotilla terus berlanjut. Mulai dari pengiriman dua kapal dari Lebanon hingga rencana gerakan konvoi 50 kapal dari berbagai belahan penjuru dunia pada September nanti.

Amalthea Muncul

Upaya rezim Zionis untuk mencegah gelombang pengiriman kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza juga terus digulirkan tanpa henti. Di berbagai kesempatan termasuk pada Dewan HAM PBB, Tel Aviv menilai serangan terhadap kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza sebagai hak legalnya. Selain itu, Tel Aviv mendesak Uni Eropa, Dewan HAM, bahkan Sekjen PBB, untuk ikut mencegah pengiriman kapal bantuan ke Gaza.

Tidak ketinggalan, Amerika Serikat juga mendukung aksi Israel itu dengan mengumbar janji akan menjadi mediator bagi penyaluran bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Mengapa baru sekarang?

Tiba-tiba Sabtu 10 Juli 2010, Yayasan Amal Internasional Gaddafi mengirimkan kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Mata dunia dan media massa kembali terpaku pada keberangkatan kapal bernama Amalthea itu. Pengiriman kapal bermuatan 2.000 ton bantuan makanan dan obat-obatan itu juga mendapat ancaman dari rezim Zionis Israel.

Awalnya, seperti yang diungkapkan Yusuf Sawani, direktur eksekutif lembaga amal pimpinan putra Presiden Libya itu, kapal ini hanya akan menuju Gaza untuk menjebol blokade. Setelah melalui kronologi panjang mulai dari kerusakan mesin dalam perjalanan hingga kepungan kapal perang Israel, akhirnya Amalthea menyetujui tuntutan Israel untuk merapat ke pelabuhan el-Arish di Mesir.

Selama itu, terjadi kontak antara Israel, Mesir, dan markas lembaga amal Libya tersebut. Seperti biasa, Mesir sebagai karib Israel di kawasan, memediasi proses dialog. Hasilnya, lembaga amal Libya menyetujui ditandatanganinya kesepakatan dengan Israel soal pembentukan rekening khusus senilai $50 juta dolar. Rekening itu akan digunakan untuk keperluan transfer bahan konstruksi ke Jalur Gaza. Prosesnya melibatkan Badan Bantuan Kerja dan Pengungsi Palestina PBB (UNHCR).

Amalthea dan Tiga Kejanggalan

Proses di atas tampak seperti sebuah upaya bersama dari Libya, Mesir, dan juga rezim Zionis Israel untuk menghindari pertikaian dalam penyaluran bantuan untuk Gaza. Namun sebenarnya terdapat beberapa kejanggalan.

Pertama, mengapa el-Arish di Mesir bukan Ashdod di Israel? Tidak seperti yang dikemukakan putra Gaddafi dalam wawancaranya bahwa tujuan ekspedisi Amalthea adalah rekonstruksi Jalur Gaza, gerakan Freedom Flotilla digulirkan untuk mengakhiri blokade Gaza. Tidak seperti Amalthea, kapal Rachel Corrie dan para aktivisnya bersikeras menuju Gaza meski mendapat ancaman. Digiring ke Ashdod pun tidak masalah karena itu berarti Israel memang mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Namun dari penggiringan Rachel Corrie ke Ashdod ada hasil lain yang cukup penting dalam upaya Freedom Flotilla. Yaitu berlanjutnya tekanan dan protes masyarakat dunia.

Jika proses itu terus berlanjut, tak ayal rezim Zionis tidak dapat menahan kerasnya gelombang penentangan dari masyarakat dunia yang pada akhirnya memaksanya mengakhiri blokade atas Gaza.

Benarkah nyawa para syuhada Mavi Marmara berjatuhan hanya demi tujuan yang diklaim oleh Gaddafi Junior tersebut?

Kedua, pelibatan UNHCR dalam koordinasi bantuan. Hal ini semakin menguatkan asumsi bahwa drama pengiriman kapal bantuan Amalthea memang skenario yang disusun rezim Zionis agar tekad masyarakat dunia soal Jalur Gaza “melempem”. UNHCR bukan sebuah institusi yang baru diterjunkan dalam krisis di Jalur Gaza dan Palestina secara keseluruhan. Lembaga ini telah lama beraktivitas di sana, bahkan saat blokade berlangsung.

Lalu apakah keberadaannya selama ini mampu mengubah situasi? Apakah satu karung semen bisa saja masuk ke Gaza?

Anehnya, hal ini juga diakui oleh putra Gaddafi, pemimpin lembaga amal Libya itu. Bahwa selama ini semua upaya untuk memasukkan bahan-bahan bangunan dan pangan ke Gaza ditentang oleh rezim Zionis Israel. Ini semua terjadi di saat masyarakat dunia bahkan PBB mengecam Israel atas aksinya itu. Lalu apa jaminan bahwa Israel akan komitmennya itu?

Ketiga, sekaligus pertanyaan paling penting. Mengapa Mesir dan Libya? Mesir sudah jelas-jelas menjadi karib dan pendukung rezim Zionis Israel. Tentu Anda tidak lupa pemerintahan Presiden Mesir, Husni Mobarak yang menutup perbatasannya dengan Jalur Gaza atas desakan Israel. Ditambah lagi bahwa Mesir adalah termasuk di antara segelintir negara Arab yang memiliki hubungan kerjasama meluas dengan Israel.

Mengapa harus Libya? Terlepas dari apresiasi terhadap segala niat amal baik, Libya yang selama krisis Flotilla berlangsung tidak pernah bereaksi secara tiba-tiba mengirim kapal bantuan ke Gaza. Dengan preseden bahwa Presiden Mesir, Muammar Gaddafi, adalah pemimpin Arab “nyentrik” cenderung “kebablas”, pengamat menyatakan besar kemungkinannya drama pengiriman kapal Amalthea hanya bagian kerjasama di balik layar Israel dengan Gaddafi dan putranya juga Mesir. (aktuaalpress)

No Response

Leave a reply "Amalthea, Konspirasi Baru Israel dengan Tiga Kejanggalan"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.