Antara “Lion” dan “Zion”: Kedekatan Singapura-Israel

Apa yang akan anda katakan saat mendengar kata Singapura? Mungkin anda akan menjawab surga belanja di kawasan Asia Tenggara, mengingat banyak orang pergi ke negeri Lee Kuan Yew itu untuk mengunjungi kawasan pusat belanja Orchard Road.

Atau, mungkin anda akan mengatakan, negara kecil dengan disiplin dan aturan ketat. Atau juga tak salah jika anda mengatakan Singapura adalah save haven bagi para koruptor Indonesia. Nyaris semua buron kasus korupsi hidup aman dan nyaman di sana.

Namun, kali ini ada satu lagi sebutan bagi negeri Singa itu: negara pengimpor senjata terbesar di Asia Tenggara.

Dalam laporan tahunan 2009 yang dirilis pada April 2010, sebuah lembaga think tank pertahanan ternama berbasis di Swedia, The Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), menempatkan Singapura sebagai negara ASEAN pertama yang masuk dalam daftar 10 negara importir senjata terbesar. Antara 2005 hingga 2009, negara dengan populasi tak lebih daripada 5 juta jiwa itu mengimpor senjata 146 persen lebih banyak dari periode tahun sebelumnya, mengalahkan Indonesia, negara berpopulasi terbesar di kawasan, yang hanya 84 persen.

Laporan SIPRI keluar hampir bersamaan dengan sebuah laporan dari Intelligence Online, sebuah majalah intelijen online berbasis di Paris, yang menyebut Singapura membantu mendanai program pembangunan sistem pertahanan anti roket dan rudal jarak pendek, yang disebut “Iron Dome”. Program ini dirancang industri pertahanan Israel, Rafael Advanced Defense System. Sebagai balasannya, Israel akan menempatkan beberapa “Iron Dome” di wilayah Singapura.

Yang menarik, menurut Intelligence Online, karakteristik “Iron Dome” ternyata tidak cocok untuk mengintersepsi roket-roket Qassam dari Hamas atau Katyusha dari Hizbullah. Selain itu, sistem ini tidak ekonomis. Per unitnya menghabiskan dana 100.000 dolar AS dan digunakan hanya untuk menghancurkan roket berbiaya kurang dari 100 dolar AS. Dengan demikian, patut dipertanyakan motivasi Kementerian Pertahanan Israel mempertahankan proyek yang menghabiskan ratusan juta dolar AS.

Suratkabar Israel Haaretz menilai dalam laporannya, ada kemungkinan bahwa “Iron Dome” sebenarnya dikembangkan secara khusus untuk Singapura.

Hubungan antara Singapura dan Israel bukan hal baru. Ini sudah berjalan sejak lebih daripada 40 tahun lalu. Segera setelah Singapura ditendang keluar dari Federasi Malaysia pada 1965, Singapura yang mendeklarasikan kemerdekaan meminta bantuan Tel Aviv untuk membangunkan sebuah angkatan bersenjata. Dua perwira Israel Defense Force (IDF), Rehavam Ze’evi (menteri sayap kanan Israel yang terbunuh pada 2001) dan Benjamin Ben Eliezer (kini menteri perindustrian), diutus ke Singapura untuk memimpin sebuah delegasi tim penasehat militer, dan membantu mengembangkan sebuah angkatan bersenjata dengan IDF sebagai modelnya. Sejak saat itu, perwira-perwira militer Israel terus aktif di Kedutaan Besar Israel di Singapura yang resmi dibuka pada 1969.
Perwira-perwira IDF tersebut secara khusus terus memodernisasi Singapore Armed Forces (SAF) dengan mempromosikan kerja sama pembangunan sistem persenjataan canggih hasil penelitian dan pengembangan industri-industri pertahanan Israel. Selain “Iron Dome”, Singapura diketahui juga pernah membeli rudal-rudal darat-ke-udara “Barak” dan pesawat-pesawat tanpa awak (drone) buatan Israel. Proyek modernisasi pesawat-pesawat tempur Singapura juga diberikan kepada Israel.

Roy Tov, mantan anggota IDF dan pembelot Israel, juga menulis bahwa Israel membantu membangun pasukan komando marinir Singapura. Pangkalan “Shayetet 13” (pasukan komando marinir Israel yang membajak armada bantuan kemanusiaan ke Gaza dan membunuh 9 penumpangnya pada 31 Mei 2010) di Atlit, selatan Haifa, adalah pusat pelatihan pasukan komando marinir Singapura. “Shayetet 13” lahir selama Perang Dunia II dengan bantuan total dari pasukan komando marinir fasis Italia, yang saat itu dipandang sebagai salah satu pasukan elit angkatan laut terbaik di dunia.

Singapura dan Israel memiliki doktrin strategis pertahanan yang hampir sama. Mengingat kecilnya wilayah dan populasi, baik Singapura maupun Israel amat mengandalkan keunggulan kualitatif lewat penguasaan alat utama sistem persenjataan canggih sebagai faktor penggentar (deterrent factor) bagi calon-calon musuh mereka. Kedua negara ini bersedia mendahului menyerang (preemptive strike) dengan tujuan mencegah musuh memasuki wilayah mereka dan memindahkan pertempuran ke wilayah musuh sesegera mungkin karena besarnya risiko kerusakan yang akan mereka alami jika berperang di wilayah sendiri.

Dalam kasus Israel, contohnya sudah teramat banyak, termasuk agresi terakhir mereka terhadap Jalur Gaza dalam “Operation Cast Lead”.

Dalam kasus Singapura, kita bisa melihat agresivitas militer negeri Singa ini lewat data penempatan pasukan di seluruh dunia yang dirilis Global Security. Singapura masuk jajaran 20 besar militer yang pasukannya paling aktif di seluruh dunia, dan di sana ia adalah negara ASEAN satu-satunya. Sekitar 930 personel militer Singapura tersebar dalam kamp-kamp pelatihan di Brunei, Australia, Perancis, Taiwan, dan Thailand.

Belanja militer mereka pun tertinggi di kawasan, mencapai 4% dari PDB (2008), jauh di atas tiga negara terbesar ASEAN, Malaysia (2%), Thailand (1,5%), dan Indonesia (1%).

Polemik Defence Cooperation Agreement (DCA) sebagai syarat yang diajukan Singapura dalam paket perjanjian esktradisi dengan Indonesia mungkin bisa jadi contoh lain. DCA itu ditolak oleh parlemen Indonesia karena isinya dipandang lebih banyak menguntungkan Singapura ketimbang Indonesia.

Pasal 3 (b) dari perjanjian itu, misalnya, menyebutkan bahwa Angkatan Udara (AU) Singapura diizinkan melakukan test flight, pengecekan teknis, dan latihan terbang di daerah Alpha-1 serta melakukan latihan militer di daerah Alpha-2. Disebutkan pula bahwa AU Singapura dapat melaksanakan latihan menembak peluru kendali sampai dengan empat kali latihan dalam setahun di Area Bravo. Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang memanjang dari Bintan, Karimun, Selat Karimata, Pulau Natuna menuju perairan Cina Selatan. Di wilayah tersebut terdapat chokepoints di Corong Barat Nusantara yang memiliki nilai strategis dalam skala global, baik ekonomi maupun militer. Dengan dikuasainya wilayah itu oleh Singapura, bukan tidak mungkin Singapura juga mendapatkan hak kontrol atas aset strategis Indonesia.

Kemudian, Pasal 3 (c) menyatakan bahwa personel dan perlengakapan angkatan bersenjata dari negara lain yang melaksanakan latihan bersama SAF di wilayah udara dan perairan Indonesia akan diperlakukan sama seperti perlakuan pada personiel dan perlengkapan SAF.

Tidak disebutkan negara-negara yang bisa diajak berlatih bersama. Tapi hal ini dapat mengancam pertahanan dan keamanan Indonesia, terutama akan adanya pengintaian oleh pasukan asing. Mantan Wakasad Kiki Syahnakri menyebut klausul ini sebagai “pendudukan psikologis” (psychological occupation) terhadap Indonesia. [islamtimes/Irman Abdurahman/sa]

No Response

Leave a reply "Antara “Lion” dan “Zion”: Kedekatan Singapura-Israel"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.