Rahbar di Hari Milad Amirul Mu’minin: Kebenaran Panduan di Masa Fitnah

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei hari ini (26/6) dalam peringatan milad Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) di depan ribuan warga Bushehr menyebut Amirul Mu’minin Ali (as) sebagai sosok manusia dengan kepribadian yang istimewa dan puncak keagungan ilmu, spiritualitas, akhlak, kemanusiaan dan ketuhanan. Beliau mengatakan, pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari kehidupan sosok pribadi yang tanpa padanan dalam sejarah manusia ini bagi kehidupan Dunia Islam dan masyarakat hari ini adalah menyadarkan, menjelaskan situasi dan memperdalam keimanan dan pemikiran untuk mereka yang memerlukan kearifan dan kesadaran.

Seraya menyampaikan ucapa selamat atas tibanya tanggal 13 Rajab, hari lahir Maula al-Muwahhidin Ali bin Abi Thalib (as), Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut hari ini sebagai hari yang besar. Menyinggung keagungan pribadi Amirul Mu’minin, beliau menandaskan, “Hal paling penting yang bisa diperoleh dari hari raya ini adalah mengambil pelajaran dari sirah dan keteladanan Imam Ali (as) dalam bertindak dan bertutur kata.”

Kehidupan Amirul Mu’minin menurut Rahbar adalah kehidupan yang keseluruhannya adalah jihad, kesabaran di jalan Allah, dan bergerak di jalan keridhaan Allah. “Pribadi agung yang tak ada duanya ini sejak kanak-kanak selalu menyertai Nabi Saw dan tumbuh besar dengan didikan beliau. Dalam berbagai fase kehidupannya yang mulia, Amirul Mu’minin (as) selalu berbuat untuk menegakkan kebenaran dan mempertahankan Islam. Kerena itu, Nabi Saw menyebutnya sebagai tolok ukur kebenaran,” kata beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa keistimewaan paling menonjol pada pribadi Amirul Mu’minin (as) adalah bahwa beliau selalu berusaha menyadarkan dan memberi penerangan kepada mereka yang memerlukan. “Memberi penjelasan dan keterangan kepada masyarakat umum saat ini menjadi kebutuhan terdepan bagi Dunia Islam dan masyarakat kita. Sebab, untuk melawan Islam, musuh telah menyusup ke dalam dengan memanfaatkan sarana agama dan akhlak. Untuk itu kita harus waspada secara penuh,” tandas beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Ketika hendak menipu opini umum bangsa-bangsa non Muslim, mereka biasa menggunakan jargon hak asasi manusia dan demokrasi, dan ketika berhadapan dengan opini umum kaum muslimin, mereka mengangkat nama Islam dan al-Qur’an. Padahal, mereka sama sekali tidak meyakini Islam, al-Qur’an dan HAM.”

Seraya mengingatkan kisah sejarah tentang fitnah yang terjadi di perang Shiffin di masa khilafah Amirul Mu’minin (as) dan diangkatnya mushaf di ujung tombak oleh pasukan Syam dengan tujuan untuk menipu opini umum dan menekan Imam Ali (as), Rahbar menerangkan, Amirul Mu’minin Ali (as) di tengah kecamuk fitnah berseru kepada sahabat-sahabat beliau, ‘Jangan lepaskan jalan kebenaran dan kejujuran yang telah kalian pilih. Jangan sampai ucapan para pemicu fitnah melemahkan hati kalian.”

Mengenai situasi fitnah yang diselimuti ketidakjelasan, beliau mengatakan, “Ketidakjelasan situasi ini terkadang bahkan membuat sebagian orang dari kalangan elit melakukan kesalahan. Karena itu ketika fitnah terjadi, diperlukan indikator dan tolok ukur yang tak lain adalah kebenaran itu sendiri. Amirul Mu’minin (as) memerintahkan umat untuk kembali kepada kebenaran, dan hal itulah yang kita perlukan saat ini.”

Rahbar lebih lanjut menjelaskan tolok ukur kebenaran itu dan mengatakan, “Indikator dan jalan terang yang dijelaskan oleh Amirul Mu’minin (as) adalah mengatur masyarakat Islam sesuai ajaran Islam, bersikap tegas terhadap musuh-musuh yang mengganggu, memperjelas batasan dengan musuh, dan waspada terhadap tipuan musuh.”

Beliau menegaskan, berkat revolusi Islam, rakyat Iran telah sadar dan waspada, dan banyak kesulitan di negeri ini yang teratasi karena kearifan rakyat. “Dalam banyak hal, rakyat umum lebih tepat mengenal hakikat dibanding sebagian kalangan elit. Sebab, rakyat tidak banyak terkait dengan kepentingan dan ini termasuk nikmat Allah yang besar,” kata beliau.

Rahbar menambahkan, “Bangsa Iran telah menunjukkan kesolidannya dalam melangkah menuju cita-cita Islam yang tinggi. Kesolidan ini juga didapat karena taufik Ilahi.”

Beliau menjelaskan bahwa kemampuan dan kearifan bangsa telah menghadiahkan keberhasilan-keberhasilan besar yang dicapai bangsa Iran dan kelestarian slogan-slogan utama revolusi Islam. Beliau mengungkapkan, “Sekarang, bangsa Iran, khususnya generasi mudanya adalah bangsa yang arif dan masa depan cerah menanti bangsa ini.”

Ayatollah al-Udzma menandaskan, “Resistensi, kesolidan, persatuan nasional dan loyalitas kepada slogan-slogan Islam, al-Qur’an dan sirah Ahlul Bait (as) harus semakin diperkuat dari hari ke hari.”

Beliau menambahkan, “Berkat bantuan Allah, para pemuda Iran akan menyaksikan tibanya hari ketika musuh-musuh yang arogan di dunia merasa tidak lagi bisa menekan dan memaksa bangsa ini.”

Lebih lanjut beliau mengimbau untuk lebih banyak menelaah Nahjul Balaghah dan merenungkan kata-kata Amirul Mu’minin Ali (as) dan hikmah yang tersembunyi di balik ungkapan-ungkapan bijak beliau. Rahabr menerangkan, “Nahjul Balaghah bukan milik kaum Syiah saja. Banyak ulama Sunni yang memberikan komentar mereka terkait kata-kata dan ungkapan Imam Ali (as) yang membuat orang terkagum-kagum penuh rasa takjub. Tidak sedikit pula cendekiawan non Muslim yang mengakui keagungan Nahjul Balaghah setelah menelaahnya.”

Di bagian lain pembicaraannya Ayatollah al-Udzma Khamenei menyinggung sejarah kota Bushehr yang penuh kebanggaan, dengan peran ulama dan para pejuangnya yang besar. Beliau mengatakan, “Syahid Rais Ali Delvari adalah panglima tempur yang mukmin dan pemberani yang namanya menjadi salah satu nama yang selamanya akan menarik hati insan-insan mukmin di seluruh penjuru negeri ini.”

Beliau menerangkan kisah Syahid Delvari yang gugur secara mazlum dan seorang diri dalam menghadapi kekuatan imperialisme Inggris. “Tentunya kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi zaman itu. Hari ini negara kita dipenuhi oleh para pemuda mukmin yang relawan dan siap berkorban. Mereka yang jumlahnya tak terbatas ini siap hadir di medan tempur serta medan budaya dan politik. Dan pasti, para pemuda dari Bushehr adalah bagian dari kelompok yang sangat besar ini,” imbuh beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menerangkan bahwa masa ketika kekuatan imperialis dengan mudah menebar ancaman dan hinaan terhadap bangsa-bangsa lain sudah berlalu. “Kini bangsa Iran dipandang oleh dunia sebagai bangsa yang kuat,” kata beliau.

Menyinggung kegagalan demi kegagalan yang dialami kekuatan adi daya dunia terutama Amerika Serikat (AS) dan keberhasilan yang dicapai oleh berbagai bangsa di dunia lewat resistensi, serta munculnya kekuatan-kekuatan berbasis rakyat, beliau menegaskan, “Kekuatan hakiki adalah hak bagi bangsa Iran. Tidak ada satupun kekuatan yang bisa memalingkan bangsa ini dari jalan yang telah dipilihnya.”

Di awal pertemuan, wakil Wali Faqih dan Imam Jum’at Bushehr Hojjatul Islam wal Muslimin Safaee dalam kata sambutannya menyampaikan ucapan selamat atas peringatan milad Amirul Mu’minin Ali (as) seraya menjelaskan peran besar para ulama dan pejuang Bushehr dalam perjuangan melawan imperialisme dan para agresor. Safaee mengatakan, “Warga Bushehr tetap berada di front terdepan melawan musuh dan para agresor. Kini, dengan kearifan dan kecintaan kepada wilayah kepemimpinan, warga Bushehr siap berkorban untuk revolusi Islam.”

Hojjatul Islam wal Muslimin Safaee menjelaskan keistimewaan provinsi Bushehr dari sisi geografis dan letaknya di pesisir Teluk Persia serta potensi besarnya di bidang pertanian, perikanan dan industri. “Dengan program yang sudah disusun sesuai dengan Dokumen Pembangunan Jangka Panjang terkait provinsi ini, diharapkan seluruh potensi Bushehr dapat diaktualisasikan dan provinsi ini akan menjelma menjadi provinsi yang maju, agamis, dan teladan dalam lingkup peta nasional dan dunia,” tambahnya.

No Response

Leave a reply "Rahbar di Hari Milad Amirul Mu’minin: Kebenaran Panduan di Masa Fitnah"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.