Pluralitas: Gimmick Marketing PKS

No comment 506 views

Keputusan PKS untuk menjadi partai terbuka dan menerima anggota nonmuslim, sesungguhnya hanyalah Gimmick Marketing. Keterbukaan itu tak mengubah sedikitpun ideologi partai yang AD ARTnya berazaskan Islam ini.

PKS bercita-cita ingin menjadi 3 besar pemenang di Pemilu 2014, itulah yang sesungguhnya melatarbelakangi, retorika PKS menjadi partai terbuka. Pluralitas agama, akhirnya jadi pilihan. Sekjen PKS Anis Matta, mengakui, dikotomi Islam dan Nasionalisme, tidak akan bisa membawa PKS menjadi partai yang diperhitungkan lagi. Bahkan cita-cita untuk menjadi partai yang masuk 3 besar dalam Pemilu 2014 akan sulit jika tidak membuka diri. “PKS masuk pada domain wacana kebangsaan yang lebih strategis,” tegas Anis. Karenanya PKS kini memakai slogan baru: PKS Untuk Semua.

Tapi benarkah PKS telah benar-benar mereposisi dari partai Islam menjadi partai terbuka? Tunggu dulu. Dalam Anggaran Dasar, memang disebutkan anggota PKS adalah Warga Negara Indonesia. Tapi dalam Anggaran Rumah Tangga, disebut dengan jelas kewajiban anggota pemula untuk berpegang teguh pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Bahkan untuk anggota Dewasa, diwajibkan Setia kepada Allah Maha Agung serta jihad di jalanNya.

Lalu bagaimana keberadaan anggota PKS nonmuslim kelak? Entahlah. Yang pasti, retorika keterbukaan PKS, sesungguhnya hanyalah sebuah pencitraan, sebagai langkah berikutnya setelah penyelenggaraan Munas di hotel mewah milik Amerika, yang sering dituding kafir.

Apakah dengan pencitraan seperti itu bisa benar-benar dijadikan marketing gimmics bagi PKS untuk memperluas pangsa pasar pemilih di 2014? Rasanya kok tidak. Segmen nonmuslim, tidak akan begitu saja percaya retorika keterbukaan PKS. Mereka butuh bukti dari statement keterbukaan itu. Nah pernyataan Tifatul Sembiring, soal analogi penyaliban Yesus, dalam kasus video porno mirip seleb beberapa waktu lalu, jelas menjadi kontraproduktif dari pencitraan yang dilakukan PKS.

Bisa jadi, dengan citra baru yang ingin dipersepsikan pada publik tersebut, PKS malah terkena bumerang. Sebab beberapa kelompok tradisional di PKS tetap menghendaki khitah PKS, sebagai partai dakwah. Citra baru itu justru mempertontonkan nafsu PKS untuk menjadi penguasa, jauh dari cita-cita awal dakwah.

Seorang pecinta PKS yang mengelola blog PKS Watch, menilai pilihan PKS menjadi partai tengah, telah menghilangkan jati diri PKS. Partai Islam itu tak lagi berbeda dengan Golkar, PDIP atupun PD. Dengan alasan itu pengelola blog tersebut memenuhi janjinya untuk menutup blog –yang selama ini sangat kritis terhadap PKS-secara permanen.

Jauh-jauh hari pengelola blog ini sudah bilang bahwa dia akan menutup blognya dengan dua alasan:  Pertama, PKS kembali lurus minimal seperti di masa awal-awal pendirian PK.  Kedua, PKS sudah rusak parah, atau sudah bukan menjadi partai Islam lagi. Nah rupanya alasan kedua yang dia gunakan untuk menutup blognya, dan mengucapkan selamat tinggal untuk PKS.

Apakah pecinta-pecinta PKS yang lain juga akan meninggalkannya?

(Tulisan Yusro dari politikana.com)

No Response

Leave a reply "Pluralitas: Gimmick Marketing PKS"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.