Mencari Iman dari “Kejahatan” Tuhan?

Artikel dibawah judul “Copas Tuhan Sang Pencipta Kejahatan”, sangat menarik untuk di diskusikan. Apalagi disana disangkutpautkan keberadaan Tuhan kaitannya dengan kejahatan. Benarkah kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia?

Sejak awal tahun 2010 sampai dengan detik hari ini, beberapa kali kita menyaksikan kejahatan yang terus melanda di bumi tercinta Indonesia bahkan dunia. Seperti yang tulis dalam artikel, “kita melihat setiap hari di Koran dan TV, banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia”, lalu gempa terjadi di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia, bulan Pebruari lalu di Bengkulu Indonesia dengan kekuatan 5,0 SR,  disusul di negara Chile dengan 8,8 SR, kemudian terjadi pula gempa dengan kekuatan 7,2 SR di Meksiko yang guncangannya terasa sampai di Nevada AS, muntahan lahar dan abu dari perut Eyjafjallajokull cukup menyumbat kran perekonomian Eropah, entah berapa korban dan jumlah kerusakan infrastruktur yang diakibatkan oleh bencana gempa-gempa tersebut.

Lebih dari satu bulan yang lalu, ada banyak pejabat negara yang terlibat proyek MARKUS, korupsi berjamaah, kebakaran, banjir dimana-mana. Sudah cukup getir menyaksikan dampak, gempa, kebakaran dan kebanjiran,  apapun itu sebabnya. Hanya saja, belum cukup lekat merasakan buruknya dampak potensial (mudah-mudahan sementara!) dari kasus MARKUS dan korupsi, dari siapapun keputusannya. Meski kedua dampak yang terakhir ini tidak atau belum senyata yang pertama, namun efek sikologisnya amat sanggup menayangkan di benak kita dampaknya yang luas. Dan, kebanyakan rakyat akan kesulitan untuk memastikan selamat dari potensi dampak itu, kendatipun mereka tidak di tempat kejadian.

Semua itu adalah bagian dari kenyataan hidup manusia di dunia. Menyangkut pautkannya dengan Tuhan barangkali lebih dari sekedar kewajaran, apalagi bagi orang yang tertimpa atau melihat kejahatan alam serta kesusahan hidup yang disengaja-paksakan. Sebagai dampak buruk, bukan hanya bencana alam yang menyoal ihwal Tuhan, tetapi juga KKN, Century dan Markus cukup kuat membincang Tuhan. Pertanyaannya: kenapa Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa membiarkan (kalau tidak menciptakan) orang-orang yang asyik KKN dan ber-Markus ria ? Dan secara umum, kenapa manusia diciptakan dengan perlengkapan daya pilih dan kehendak yang berpotensi membuat gara-gara, korupsi dan kemelaratan untuk umat manusia dan dunia? Singkatnya benarkah kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia??

Barangkali perlu diperkarakan pula dasar pertanyaan-pertanyaan ini. Bahwa  pertama, soal Tuhan selalu saja menjadi sorotan akal, emosi dan hati, bagi yang percaya pada wujud-Nya atau tidak. Maka, kalaulah hasil dari pertanyaan itu adalah bahwa Tuhan itu -katakan saja- tidak ada,  setidak-tidaknya upaya membincang Tuhan saja sudah merupakan indikasi fitriyah dalam diri manusia, apapun konklusinya. Dalam bencana alam, KKN dan markus, atau Century, indikasi ini tampak menonjol mengingat kata Tuhan di dalamnya bisa diartikan beragam sekaligus relevan dengan masalah; Tuhan sebagai Sumber Wujud bagi kaum filosof, atau sebagai Pencipta alam semesta bagi orang awam. Maka itu, keunikan tampak tatkala usia tua masalah fitriyah ini bertahan awet dan tetap aktual.

Kedua, suatu masalah dibincangkan dan dikembangkan melalui sirklus pertanyaan dan jawaban, kesimpulan dan sanggahan, tak ubahnya gerak spiral; entah sampai di mana akan  berhenti. Yang jelas, gerak spiral berawal dari satu titik yang jelas, dan  bergulir lebih lebar dari gerak yang sebelumnya. Lantaran tuanya usia hingga ketakjelasan akhirnya tidak serta-merta masalah ini dianggap misteri, selain dimaknai sebagai ketidaktahuan kita yang menghadapinya. Berkata  tidak tahu mendesak orang untuk mencari, meninggalkan harapan untuk mendekati kejelasan, walaupun tidak sepenuhnya. Tentu diperlukan keberanian yang lebih dari sekedar berdiri di atas kata tidak tahu, karena memutuskan berada di dalam masalah harus menerima konsekuensi logis yang bisa jadi mengganggu kemapanan iman dan membentuk klaim yang harus dipertanggungjawabkan.

Dalam subjek apa saja, tidak tahu adalah sikap yang paling aman, meski tidak berarti nyaman. Di dalamnya tidak ada klaim, penilaian, tidak ada pula pertanggungjawaban. Ini tidak sama dengan “tidak bisa diketahui” atau “tidak bisa dipecahkan”, karena di dalamnya terkandung klaim yang tidak kecil.

Masalah kejahatan itu dikatakan besar, selain karena usia tua dan watak fitriyahnya, merupakan satu-satunya basis pertahanan dan bahkan perlawanan orang ateis terhadap segenap penjelasan dan argumentasi atas keberadaan Tuhan dan sifat-sifat keagungan-Nya yang tak terbatas. Dari sisi lain, kemungkinan ragu akan keberadaan Tuhan tidaklah jauh bagi seorang mukmin yang memutuskan masuk ke dalam perdebatan seputar kejahatan di dunia.

Karenanya, bencana alam, markus, krisis ekonomi dan kejahatan lainnya di dunia merupakan kesempatan yang amat besar dan, disyukuri atau tidak, selalu terbuka untuk menimbang alasan dan resistensi keimanan seseorang pada Tuhan dan agamanya. Setidaknya, ada dua cara pelindungan seseorang terhadap keimanan yang “kadung” atau diupayakan kemapanannya: bertahan di hadapan masalah, atau menarik diri darinya. Tentu, memilih salah satu dari dua cara ini perlu alasan yang bisa diawali dengan sebuah pertanyaan: Apakah keimanan dan ke-Tuhanan kita bisa diberi penjelasan logis, rasional ataukah tidak?

No Response

Leave a reply "Mencari Iman dari “Kejahatan” Tuhan?"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.