Isu Sunnah-Syiah, Tanggapan untuk Hidayatullah

Mengikuti analisis beberapa komentar atas polemik Wahabi-Syiah di bawah judul “Mengapa Silaturahmi Dilarang?” menarik  banyak pertanyaan dari benak saya. Misalnya, sikap pelarangan ormas Islam terhadap penyelenggaraan Silaturahmi Nasional V Ahlul Bait Indonesia, dan tiba-tiba mengangkat isu Sunisme dan Syi’isme pada hari-hari ini? Adakah realitas sosial-politik aktual di tanah air sebagai referensi  kekuatirannya? Di dalam 7 point pernyataan sikap itu, saya tidak menemukan data sejarah menyangkut empat belas abad yang lampau.

Sambil berdoa semoga cara dan isu yang diangkat dalam pernyataan sikap ormas Islam? (saya menganggapnya ormas wahabi, dan bukan Sunni) itu tidak malah menyegarkan darah yang sudah kering. Alih-alih beranjak dari sejarah silam, menjadi lebih produktif bila pesan atas keadaan umat itu mengacu pada realitas dunia Islam yang paling aktual sekaligus prospektif, khususnya pada umat Islam di Timur Tengah.

Apapun aspek dan hasil berdebatan seputar Sunni-Syi’ah, yang jelas ialah bahwa dua mazhab ini merupakan bagian besar sejarah Islam sampai sekarang. Usia perjalanan mereka dan pergulatan yang berlangsung hampir seusia Islam itu sendiri. Maka itu, pengamatan atas mereka tidak cukup, kalau tidak dianggap timpang, hanya menilik dari bilik politik dan perilaku sahabat Nabi pada satu kurun waktu. Dan pembelahan umat Islam yang datang setelah mereka terjadi dari akumulasi sejarah, politik, ideologi dan pembacaan terhadap doktrin.

Tentunya seiring dengan itu, perbedaan dua pengikut mazhab besar Islam ini semakin luas dan tajam. Inti perbedaan mereka lebih cenderung kepada perbedaan tafsir dan cara pemahaman yang dilatari oleh berbagai bidang, termasuk sastra bahasa. Fenomena ini juga terjadi pada generasi sahabat bahkan semasa Nabi masih hidup di tengah mereka. Maka bisa dibayangkan betapa luas dan tajamnya perbedaan umat yang lahir 1400 tahun setelah ketiadaan Nabi. Satu  contoh kecil, Sunnah yang biasa didudukkan di sisi Al-Qur’an menjadi lahan penafsiran yang berbeda tidak hanya Sunni dan Syi’ah, yang kalaulah pemahaman mereka itu terhadap kata ini saja satu dan tunggal, hampir dipastikan tidak akan ada yang namanya Sunni dan Syi’ah. Maka, dua contoh perbedaan ini tidak mudah disederhanakan ke dalam konteks politik semata.

Pada saat menghadapi panjang dan kompleksnya realitas perselisihan Sunni dan Syi’ah, kita menyadari pula kekuatan budaya, sosial dan politik dua mazhab tersebut. Di dalamnya, kita pun menyadari betapa sulitnya menghindari perbedaan dan memungkinkan kemufakatan mutlak di antara mereka yang hidup sekarang. Namun, ini tidak berarti sebagai sebuah alasan untuk menutup semangat dan harapan dalam mengusahakan persatuan umat Islam. Hanya persatuan yang tak mungkin ialah ketika menuntut kemufakatan mutlak, baik dengan cara mengutuhkan mereka menjadi tunggal, atau mengeluarkan kedua-duanya dari lingkungan Al-Qur’an, atau, dengan alasan Al-Qur’an itu sendiri sebagai rujukan yang otentik, sebab duduk persoalan -sekali lagi- lebih berat pada perbedaan tafsir dan pemahaman.

Mendudukkan semua sahabat sama-sama salah mengingat sahabat juga manusia di dalam konflik politik itu hanya sekedar alasan, pandangan Pak Cilik, sama-sama manusia biasa yang bisa salah juga tidaklah memberikan kontribusi yang berarti, karena lagi-lagi persoalan Sunni-Syi’ah sekarang berkisar pada; jalur dan sabahat mana yang layak menjadi rujukan sabda-sabda Nabi sang penjelas hakiki Al-Qur’an.

Dalam keadaan ini, yang lebih mungkin diupayakan ialah minimalisasi perbedaan dan maksimalisasi “taqrib” (pendekatan). Yaitu melalui dialog yang saling menghormati. Di dalam dialog, bukan hanya Al-Qur’an bisa diakui sebagai salah satu referensi otentik, juga bukan hanya perbedaan bisa diakui untuk kemudian saling dipahami serta diselesaikan secara arif oleh pihak-pihak terkait, bahkan kekuatan setiap pihak pun bisa diakui untuk dikerjasamakan demi kepentingan-kepentingan luas sosial dan politik umat.

Secara praktis, peluang dan harapan persatuan yang berbasis pada dialog cukup terbuka, bahkan perlu dioptimalkan, mengingat upaya ini bukan yang baru saja digagas, tetapi sudah lama dirintis dan dibangun oleh kalangan ulama dan intelektual  Sunni dan Syi’ah. Pada ukuran kontemporer, persatuan dan pendekatan penganut dua mazhab ini di kawasan sekritis Timur Tengah sedang menunjukkan kekuatan pasca pemilu di Irak yang dimenangkan oleh mayoritas Syi’ah. Bersama suku Kurdi yang sunni, mereka sepakat untuk bekerja sama membangun kekuatan demokratis guna membangun bangsa dan negara. Juga rakyat sunni di Suriah  dan Palestina menyambut “people power” yang digagas kelompok Hizbullah yang Syi’ah di Lebanon. Atau yang jarang kita dengar ialah kerjasama Arab Saudi dan Iran di bidang perundang-undangan dan sistem hukum Islam pada tingkat negara. Bahkan di Iran sendiri, hukuman terhadap pelaku pelecehan terhadap manusia-manusia yang di sakralkan, entah Syiah maupun Sunni tengah digodok dalam parlemen dan akan dimasukan ke dalam UUD RII.

Lalu kita di bagian tenggara Asia, yang lebih dikenal dengan kelembutan dan keramahan watak ketimuran, selayaknya lebih tanggap membangun persatuan dan pendekatan melalui kanal dialog yang saling menghormati, bila perlu melampaui sebatas perbedaan Sunni-Syi’ah. Percayalah, bahwa Allah swt. menurunkan ayat ini untuk semua umat Islam: “Berpegangteguhlah pada tali Allah, dan janganlah berpecah-belah” (QS. Al-imran: 103). Kalau mungkin untuk sementara ada perbedaan tafsir pada kata “tali”, semua bisa memahami satu pada penggalan kedua dari ayat itu; bersatulah umat Islam!

4 Responses
  1. author

    Darut Taqrib9 years ago

    Persatuan lebih penting, supaya Islam jaya. cukup sudah perpecahan merusak tubuh kita…terlalu lama kita menari mengikuti gerakan musuh. saatnya menarikan persatuan, karena Islam seharusnya satu; satu Tuhannya dan Rasulnya. Allahu Akbar!

    Reply
  2. author

    arifin9 years ago

    Sejarah dan perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat serta para tabiin, tabiin-tabiin, para aulia, para gaust, para ulama rasyidin, para guru2, ustadz2 dan para mujahidin, mujtahidin dan semua para pejuang Islam yg niat dan usahanya dalam membela Islam, ajaran Islam dan menegakkan syariah Islam dan kedaulatan Islam dengan fundemen ajaran Al Qur’anul karim dan Sunnaturrasulullah SAW adalah mata rantai dan benang merah yang tiada terputus dan terus berkesinambungan sampai akhirul yaum. Kita sebagai bagian dari rangkaian sejarah, seyogianya memperkuat kembali tonggak2 dan kekuatan serta bangunan Islam, ajaran Islam, syariah Islam, akhlak Islam, persatuan, kesatuan dan kedaulatan Islam yang memberikan kemakmuran, keadilan, ilmu pengetahuan dan tehnologi, keamanan dan kesejahteraan serta martabat luhur bagi umat Islam dan kemanusiaan. Sejarah masa lalu telah menjadi bukti yang nyata akan kebenaran Islam, kini kita dalam keadaan terpuruk dan tertindas dan terhinakan oleh zaman sekularisme, hedonisme, tekanan kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan zionisme seta agresi kekuatan2 dan media dan idea2 serta paham liberalime yang merampas kedaulatan negara2 Islam yg sedang merambah dunia termasuk dinegara-negara mayoritas muslim, maka wajib bagi kita bangkit dan bangun dengan sadar dan ikhlas akan tanggung jawab sejarah untuk bangkit dan bersatu dgn seluruh jiwa dan raga demi tegaknya syariah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai tugas mulia dalam menegakkan dan mewujudkan kembali akan titah firman Allah SWT untuk menegakkan dan memelihara Amanah Allah kepada kita sekalian.
    Marilah kita sekalian dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh menguatkan kembali persatuan dan kesatuan umat Islam serta ikatan yang kokoh silaturahim, persaudaraan dan solidaritas kita sesama muslim, baik di Republik Indonesia dan seluruh jagat raya. Bangunkan dan bangkitkan nawaetu kita untuk secara ikhlas menerima kekurangan dan kelebihan dari Sdr2 kita yang lain. Jauhkan saling mencemoohkan dan menghinakan atau melebihkan diri atas yang lainnya. Mari kita saling belajar dan membuka hati demi kebenaran Allah dan tegaknya syariah dan ajaran Allah dengan kaffah, utuh dan saling melengkapi sesuai dgn yang dimiliki da diyakini. Jauhkan perpecahan dan cakar2-an sesama umat muslim, terlebih lagi jauhkanlah kita dari saling menyakiti, serakah dan kikir. Kami berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk dan dari perbuatan2 yang tercela dan dimurkai Allah SWT. Amin.
    Mari kita genggam tangan satu sama lain dengan ikhlas bersaudara dan saling menguatkan satu dengan lainnya dalam membela Islam, membela umat Islam dan membela syariah Islam yang harus kita junjung tinggi dan kita hormati. Wujudkanlah cita2 Islam kita dan semua ajaran Allah SWT, baik yang kita sukai dan yang kita tidak sukai. Aapabila itu dari Allah, maka kita ikhlaskan untuk kita ikuti dan hormati dengan mohon ridha dan rahmat Allah SWT. Amin

    Reply
  3. author

    elfan9 years ago

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah Ibu Nabi Musa As. atau ya Saudara Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan sesudah ayar 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. isteri plus anak-anak beliau.

    Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu hanya ruang lingkup keluarga rumah tangga MUHAMMAD RASULULLAH SAW. Dan jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas, maka ruang lingkup ahlul bait tsb. menjadi:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Seandainya ada anak lelaki beliau yang berkeluarga, ada anak lelaki pula, wah ini masalah pewaris tahta ‘ahlul bait’ akan semakin seru. Inilah salah satu mukjizat, mengapa Saidina Muhammad SAW tak diberi oleh Allah SWT anak lelaki sampai dewasa dan berketurunan. Pasti, perebutan tahta ahlul baitnya dahsyat jadinya.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidak mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam. Lalu, apakah anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita nasabkan kepada Bunda Fatimah, ya jika merujuk pada Al Quran tidak bisalah. Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, maka karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya. Jadi tidak sistim nasab itu berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari kembali ke nasab laki-laki.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanyalah bunda Fatimah, sementara anaknya Saidina Hasan dan Husein bukan lagi pewaris dari tahta AHLUL BAIT.

    Ya jika Saidina Hasan dan Husein saja bukan Ahlul Bait, pastilah anak-anaknya otomatis bukan pewaris Ahlul Bait juga. Tutuplah debat masalah Ahlul Bait ini, karena fihak-fihak yang mengklaim mereka keturunan ahlul bait itu sudah tidak ada lagi.

    Reply
    • author

      arifin9 years ago

      Maaf kan saya yang dhaif dan tidak berilmu. Saya tidak memiliki ilmu apapun untuk memisah-misahkan umat Islam, baik yg sunni maupun yg syiah, atau mazhab apapun; syafii, hambali, hanafi dan maliki dll. Bagi saya Islam adalah satu. Karena itu perkuatlah persatuan ummat Islam, persaudaraan dan solidaritas sesama muslim. Hormatilah keyakinan dan mazhab masing2. Jangan dijadikan perbedaan yg memecah belah, tetapi bagian dari kekayaan Islam dan patut kita pelajari dengan seksama. Mengenai keyakinan itu, insya Allah kita mohonkan semoga Allah mencurahkan hidayah, inayah, maunah dan ma’rifah kepada kita, untuk mana kita berjalan dgn sebenarnya. Kewajiban kita thalabul’ilmu; sedangkan hubungan sesama kita dan silaturahim kita wajib tegak dan saling memberi hormat. Utamakan persatuan ideologi untuk kekuatan kita dan agar fundamental hukum Islam dan syariah ditegakkan secara benar dan adil untuk kemaslahatan umat dan curahan berkah Allah Maha Pemurah. Bangunkan program yang menguatkan silaturahim, persatuan dan persaudaraan serta solidaritas yg kongkrit. Makmurkan dan sehatkan rakyat dan umat dengan ilmu dan kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik dan lembaga2 kesejahteraan yang adil dan benar berdasarkan UU yang berjiwakan syariah yg diridhoi Allah SWT, yi Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW secara kongkrit.
      Jangan dibiarkan umat cakar2an satu sama lain, sedangkan musuh2 Islam secara terang2an dan terselubung mencengkeram dengan cara dan kekuatan mereka. Curahkan ilmu dan akhlak mulia agar jiwa2 umat ini bercahaya dan dalam curahan ridho dan rahmat Allah Maha Mulia dgn berlimpah. Saya mohonkan dengan segala hormat dan kerendahan hati kepada para ulama rasyidin, habaib, guru2, para professor dan tokoh serta sesepuh umat dan masyarakat muslim khususnya dan umat islam umunya serta para anak negeri dan anak bangsa ini, marilah kita saling bersapa dan berjabat tangan dengan penuh cinta kasih dan persaudaraan. Yakinkan diri kita berjalan dijalan Allah yg lurus. Dan ajarkan dengan benar dan perbuatan yang terpuji dan ikhlas secara nyata. Amin. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar…

      Reply

Leave a reply "Isu Sunnah-Syiah, Tanggapan untuk Hidayatullah"

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.